BERITA TERKINI
Tenggat Diplomasi AS-Iran Berakhir, Ketegangan Selat Hormuz Kembali Meningkat

Tenggat Diplomasi AS-Iran Berakhir, Ketegangan Selat Hormuz Kembali Meningkat

Ketidakpastian masih menyelimuti konflik antara Amerika Serikat dan Iran setelah tenggat perpanjangan diplomasi yang ditetapkan Presiden Donald Trump berakhir pada 6 April 2026. Hingga batas waktu tersebut lewat, belum muncul tanda kesepakatan yang dapat meredakan ketegangan, terutama terkait situasi di Selat Hormuz yang menjadi jalur energi strategis dunia.

Situasi terkini berawal dari keputusan Washington pada akhir Maret untuk menghentikan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari. Langkah itu sempat menurunkan kepanikan global, tercermin dari turunnya harga minyak dan menguatnya pasar saham Amerika Serikat. Namun, ketenangan tersebut tidak bertahan lama karena jalur diplomasi tidak menunjukkan perkembangan konkret.

Sejak awal, Trump menyampaikan ultimatum kepada Teheran agar membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Ia juga menyertakan ancaman serangan terhadap fasilitas vital Iran apabila tuntutan itu tidak dipenuhi. Menjelang berakhirnya batas waktu pertama, Washington mengklaim telah terjadi pembicaraan melalui utusan khusus, tetapi klaim tersebut dibantah Iran yang menegaskan tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun.

Perbedaan pernyataan itu kemudian menjadi pola dalam dinamika hubungan kedua negara. Di satu sisi, AS menyebut komunikasi berjalan dan bahkan menyatakan Iran lebih dulu menghubungi untuk membuka jalur komunikasi. Di sisi lain, Teheran terus menyangkal adanya dialog dan menyebut langkah Washington sebagai tekanan psikologis yang tidak akan mengubah keadaan di lapangan.

Media pemerintah Iran juga menyampaikan bahwa perang psikologis tidak akan mengembalikan Selat Hormuz ke kondisi sebelum perang dan pasar energi tidak akan tenang. Pernyataan tersebut mempertegas sikap keras Iran di tengah tekanan yang meningkat.

Ketika tenggat awal semakin dekat, Trump kembali memperpanjang jeda serangan selama 10 hari berikutnya dan mengklaim keputusan itu diambil atas permintaan pemerintah Iran. Pernyataan tersebut kembali dibantah Teheran, memperlihatkan bahwa perang informasi turut menjadi bagian dari konflik yang berlangsung.

Di tengah kebuntuan diplomasi, laporan menyebut Pentagon menyiapkan sejumlah opsi militer, termasuk kemungkinan operasi darat dan serangan skala besar. Tekanan juga datang dari pasar global: harga minyak dunia dilaporkan melonjak signifikan, sementara pasar saham AS mengalami tekanan tajam.

Dampak konflik dinilai tidak lagi bersifat regional. Selama jalur energi di Selat Hormuz belum sepenuhnya aman, ketidakstabilan global berpotensi berlanjut. Di sisi Iran, tekanan ekonomi juga disebut semakin berat akibat terganggunya ekspor minyak, yang memperdalam krisis seiring berkurangnya pemasukan energi dari hari ke hari.

Seorang pejabat dari negara mediator menyebut Washington tampak semakin condong mempertimbangkan opsi militer. Namun pada saat yang sama, AS disebut menyadari bahwa Iran kemungkinan besar tidak akan menerima proposal perdamaian yang diajukan.

Dengan berakhirnya tenggat diplomasi pada 6 April, perhatian kini tertuju pada langkah berikutnya. Pilihan yang tersisa disebut hanya tiga: memperpanjang tenggat kembali, mencapai kesepakatan, atau menghadapi eskalasi konflik.