Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran dengan menyatakan negara itu bisa “dihancurkan dalam satu malam”. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
“Seluruh negara (Iran) dapat dihancurkan dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam,” kata Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, Senin (6/4), sebagaimana dikutip dari kanal YouTube White House.
Trump menegaskan Amerika Serikat siap mengambil langkah militer secara cepat apabila situasi memburuk. Ia juga menyampaikan tekanan agar Iran segera menyepakati tuntutan Washington, sembari menekankan opsi militer tetap terbuka jika tidak ada kesepakatan dalam waktu dekat.
Selain itu, Trump mengindikasikan serangan dapat menyasar sejumlah infrastruktur vital Iran. Target tersebut dinilai strategis karena berpotensi melumpuhkan aktivitas nasional secara menyeluruh.
Pernyataan ini memperlihatkan eskalasi hubungan kedua negara yang semakin serius. Nada keras dari Washington menunjukkan jalur militer menjadi salah satu tekanan utama dalam proses negosiasi, meski peluang diplomasi disebut belum sepenuhnya tertutup.
Trump menyatakan kesepakatan masih bisa dicapai apabila Iran bersedia memenuhi tuntutan yang diajukan. Namun, pemerintah di Teheran merespons dengan sikap tegas, memperingatkan akan memberikan balasan besar bila serangan benar-benar terjadi. Iran bahkan menyebut potensi responsnya sebagai tindakan yang menghancurkan dan meluas.
Di tengah situasi tersebut, dorongan mediasi internasional dinilai semakin mendesak. Sejumlah negara mendorong kedua pihak kembali ke jalur diplomasi guna meredakan ketegangan, meski hingga kini belum ada tanda-tanda kesepakatan akan segera tercapai karena perbedaan kepentingan yang masih menjadi hambatan utama.
Ketidakpastian yang berlangsung membuat ancaman militer terus membayangi perkembangan situasi dan meningkatkan risiko meluasnya konflik. Dampaknya juga berpotensi menjalar ke perekonomian global, terutama jika jalur distribusi energi seperti Selat Hormuz terdampak langsung. Jika eskalasi berlanjut, dampaknya tidak hanya dirasakan Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga dapat mengganggu stabilitas global.

