BERITA TERKINI
Tujuh Episode Star Trek yang Dianggap Meramal Masa Depan: dari Ketimpangan Sosial hingga Dokter AI

Tujuh Episode Star Trek yang Dianggap Meramal Masa Depan: dari Ketimpangan Sosial hingga Dokter AI

Waralaba Star Trek kerap dikenang bukan hanya karena kisah petualangan antargalaksi, tetapi juga karena sejumlah episodenya dinilai “mendahului zaman”. Beberapa cerita menyentuh isu sosial, arah perkembangan teknologi, hingga kritik terhadap sistem ekonomi. Berikut tujuh episode yang kerap disebut memiliki kemiripan dengan realitas masa kini.

1) Star Trek: Deep Space Nine — “Past Tense—Part 1”: ketimpangan sosial dan tunawisma
Episode yang ditulis Robert Hewitt Wolfe ini menampilkan gambaran Amerika Serikat dengan kemiskinan dan tunawisma yang parah. Cerita berlatar Agustus 2024, ketika tiga petugas Deep Space Nine terkirim ke San Francisco melalui transporter. Dua di antaranya justru digiring ke distrik suaka yang dikelilingi tembok—tempat tunawisma dan warga miskin diasingkan—sementara Jadzia Dax berada di lingkungan orang kaya yang digambarkan tidak menyadari penderitaan di sekitarnya.

Dalam artikel tersebut, Axios dikutip menyebut tunawisma meningkat tajam di AS sejak 2017 dan mencapai rekor tertinggi pada 2024, disertai kesenjangan yang melebar antara kaya dan miskin. Disebut pula adanya laporan penggusuran tenda tunawisma oleh otoritas setempat, serta praktik pengumpulan dan pemenjaraan tunawisma karena dianggap mengganggu dan melanggar hukum.

2) Star Trek: Deep Space Nine — “Past Tense—Part 2”: lelucon soal dominasi New York Yankees
Bagian kedua “Past Tense” memuat dialog yang kemudian dikenal sebagai lelucon populer pada 1990-an: New York Yankees disebut akan menjadi tim terbaik pada 1999. Dalam cerita, Kapten Sisko dan Dokter Julian Bashir berbincang dengan polisi setempat bernama Vin, penggemar bisbol liga utama, yang menyebut “Yankees ’99” sebagai tim terbaik sepanjang masa.

Artikel menyatakan prediksi itu “tepat” karena Yankees kemudian menjuarai World Series pada 1996 melawan Atlanta Braves, lalu mendominasi pada rentang 1998 hingga 2000, dan kembali menang pada 2009.

3) Star Trek: The Original Series — “A Taste of Armageddon”: perang yang diabstraksikan teknologi
Di tengah konteks era Perang Vietnam, episode ini menampilkan Enterprise yang datang untuk misi diplomatik ke Eminiar VII, tetapi menemukan planet tersebut telah berperang selama berabad-abad dengan Vendikar. Yang mengejutkan, tak ada puing, tak ada kota hancur; masyarakat terlihat menjalani kehidupan modern seperti biasa.

Spock kemudian menyimpulkan perang dilakukan melalui simulasi komputer. Korban yang “ditetapkan” sistem diperintahkan datang ke stasiun disintegrasi untuk mengakhiri hidup, tanpa kekacauan di medan tempur. Artikel menilai konsep “perang terkomputerisasi” ini beresonansi dengan peperangan abad ke-21, ketika serangan drone presisi dapat dioperasikan dari jarak ribuan kilometer sehingga perang terasa makin jauh dari kontak langsung antarmanusia.

4) Star Trek: The Next Generation — “Unnatural Selection”: rekayasa genetika dan dampaknya
Tema genetika sudah lama hadir dalam Star Trek, tetapi episode “Unnatural Selection” (1989) disebut memprediksi kemajuan rekayasa genetika yang kini masuk ke arus utama, termasuk perawatan personalisasi berbasis genetika dan uji coba pengeditan gen CRISPR.

Ceritanya berpusat pada Dr. Katherine Pulaski yang menyelidiki wabah aneh di USS Lantree setelah kapal itu melintasi Stasiun Penelitian Genetika Darwin di Gagarin IV. Alih-alih penyakit biasa, para korban mengalami penuaan dini. Pulaski menemukan penelitian di stasiun itu mencakup rekayasa genetika anak-anak telepati dengan sistem kekebalan tubuh kuat untuk melawan penyakit. Namun, ketika gen mereka berinteraksi dengan flu Thelusian, tubuh memicu antigen yang terkait dengan penuaan—menunjukkan sisi risiko dari intervensi genetika.

5) Star Trek: Voyager — “Caretaker”: dokter AI melalui hologram
Episode pembuka Star Trek: Voyager (1995) memperkenalkan Hologram Medis Darurat (EMH) atau “Doctor”, yang mengambil alih ketika dokter Voyager tewas saat bertugas. Tokoh ini digambarkan sebagai sistem kecerdasan buatan yang berinteraksi dengan pasien lewat proyeksi holografik, memiliki kepribadian terprogram, dan dapat beradaptasi dengan perintah.

Basis data EMH mencakup Basis Data Medis Starfleet dan ribuan budaya serta sumber daya medis, tetapi perannya bukan sekadar “ensiklopedia”: ia mampu mendengarkan, mendiagnosis, dan merespons. Artikel menyebut dokter AI sudah diuji di rumah sakit kecerdasan buatan pertama di dunia, China’s Agent Hospital, yang diklaim dapat merawat 10.000 pasien dalam beberapa hari dengan akurasi 93 persen—meski masih tahap uji coba dan pasiennya tidak nyata.

6) Star Trek: The Next Generation — “Hollow Pursuits”: kecanduan teknologi
Episode “Hollow Pursuits” (1990) menyorot Reginald Barclay, insinyur Enterprise yang kecanduan holodeck—ruang simulasi holografik 3D. Ketergantungan itu membuatnya sering terlambat bahkan absen bekerja, memicu ketegangan dengan rekan-rekannya.

Artikel mengaitkan kisah Barclay dengan fenomena kecanduan teknologi masa kini, seperti media sosial, judi online, gim online, dan aktivitas NSFW, yang dapat menurunkan produktivitas dan memicu masalah emosional. Episode itu juga menyinggung kecenderungan orang yang kesepian atau canggung secara sosial untuk “mengobati diri” melalui teknologi.

7) Star Trek: Voyager — “Future’s End”: kritik kapitalisme dan monopoli teknologi ruang angkasa
Dalam “Future’s End”, kru Voyager terseret ke tahun 1996 dan bertemu Henry Starling, tokoh yang merekayasa balik teknologi luar angkasa yang didapat pada 1967. Ia memanfaatkannya untuk membangun Chronowerx Industries dan mengumpulkan kekayaan, tetapi tindakannya digambarkan merusak masa depan.

Artikel menilai kisah ini sebagai peringatan tentang kapitalisme yang memungkinkan segelintir pihak memonopoli kemajuan teknologi, termasuk perjalanan luar angkasa. Disebut pula contoh di dunia nyata: pada 2025, penyanyi Katy Perry bersama empat perempuan lain melakukan penerbangan Blue Origin selama 11 menit ke luar angkasa, yang dipandang sebagai penanda bahwa perjalanan luar angkasa lebih mudah diakses oleh mereka yang kaya dan berpengaruh.

Dalam keseluruhan rangkaian contoh tersebut, Star Trek digambarkan memiliki pengaruh kuat dalam membayangkan masa depan—baik sebagai inspirasi teknologi maupun sebagai cermin untuk membaca persoalan sosial yang terus berulang dalam bentuk baru.