BERITA TERKINI
Analis: Ketegangan Dagang China-AS Berpotensi Bergejolak Lagi Meski Ada Jeda Sementara

Analis: Ketegangan Dagang China-AS Berpotensi Bergejolak Lagi Meski Ada Jeda Sementara

Hubungan dagang China dan Amerika Serikat diperkirakan kembali memasuki fase penuh gejolak, meski kedua negara baru-baru ini mencapai jeda yang dinilai sebagai “damai sementara”. Para analis menilai meredanya ketegangan saat ini tidak menghilangkan risiko munculnya gelombang baru perang dagang.

Menurut para analis, persaingan kedua raksasa ekonomi kini juga berlangsung lewat perebutan pengaruh di negara-negara ketiga. Situasi ini disebut berpotensi mengguncang rantai pasok global dan menempatkan banyak negara pada posisi serba sulit.

Scott Kennedy, penasihat senior di lembaga think tank AS Centre for Strategic and International Studies, mengatakan dinamika hubungan China-AS cenderung bergerak dalam pola naik-turun. “Kita akan melihat siklus naik-turun. Mereka akan saling menguji,” kata Kennedy dalam sebuah forum di Beijing pada Kamis.

Ia menambahkan bahwa sejak 2018, tingkat gejolak dalam siklus tersebut semakin besar. Dalam sesi tentang dunia multipolar di Caixin Summit 2025, Kennedy menilai kedua negara tetap sangat saling bergantung, meski memiliki beragam instrumen yang dapat digunakan untuk saling menekan secara ekonomi.

Setelah kesepakatan kecil yang dicapai ketika dua presiden bertemu bulan lalu, Kennedy memperkirakan jeda sementara bisa berlangsung setahun atau lebih dan membuka ruang untuk negosiasi lanjutan. Namun, ia juga mengingatkan bahwa tekanan politik domestik dapat mendorong Presiden AS Donald Trump mengambil sikap yang lebih keras, termasuk melalui penggunaan alat dan kebijakan baru yang lebih agresif.

Ketidakpastian hubungan dua ekonomi terbesar dunia itu turut berdampak pada negara lain. Joerg Wuttke, mitra di perusahaan konsultan DGA Albright Stonebridge Group di Washington dan mantan presiden Kamar Dagang Uni Eropa di China, menilai Eropa berada dalam posisi terjepit di antara dua kekuatan besar tersebut dan menyebut situasinya “sangat mengkhawatirkan”.

Wuttke mencontohkan kontrol ekspor tanah jarang (rare earth) terbaru dari Beijing. Ia mengatakan kebijakan itu tidak ditujukan kepada perusahaan Eropa, namun tetap menimbulkan dampak tambahan yang merugikan.