BERITA TERKINI
Bursa Asia Menguat di Tengah Harapan Selat Hormuz Kembali Dibuka, Harga Minyak Tetap Melonjak

Bursa Asia Menguat di Tengah Harapan Selat Hormuz Kembali Dibuka, Harga Minyak Tetap Melonjak

Pasar saham Asia-Pasifik menguat pada awal perdagangan Jumat seiring optimisme investor terhadap kemungkinan dibukanya kembali jalur strategis Selat Hormuz. Sentimen positif pada periode libur Paskah ini muncul setelah kabar Iran dan Oman menyusun protokol untuk “memantau transit” kapal di jalur tersebut, yang memunculkan harapan bahwa rute pelayaran vital bagi distribusi minyak dunia dapat kembali dibuka, setidaknya sebagian.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran bidang hukum dan urusan internasional, Kazem Gharibabadi, menyatakan lalu lintas kapal tanker melalui jalur tersebut “harus diawasi dan dikoordinasikan” oleh Iran dan Oman, sebagaimana dilaporkan kantor berita pemerintah Iran.

Meski ada harapan terkait akses pelayaran, harga minyak dunia masih menunjukkan lonjakan tajam. Minyak mentah Amerika Serikat naik hampir 12% ke USD 112,06 per barel, sementara minyak acuan global Brent menguat sekitar 8% ke USD 109,24 per barel.

Selain itu, harga spot untuk pengiriman fisik minyak Brent dilaporkan melonjak hingga USD 141,36 per barel pada Kamis, yang disebut sebagai level tertinggi sejak krisis keuangan global 2008.

Di kawasan Asia, penguatan pasar dipimpin Korea Selatan. Indeks Kospi melonjak 3,25% dan indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq naik 2,15%. Di Jepang, indeks Nikkei 225 menguat 1,67% dan Topix naik 1,38%.

Sementara itu, bursa Australia dan Hong Kong tutup karena libur Paskah.

Di Amerika Serikat, pergerakan pasar cenderung stabil. Kontrak berjangka S&P 500 tercatat stagnan, Nasdaq-100 turun tipis 0,07%, dan kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average naik 9 poin atau 0,02%.

Pada perdagangan sebelumnya di Wall Street, indeks utama bergerak fluktuatif di tengah lonjakan harga minyak, namun ditutup relatif datar. Dow Jones turun 61,07 poin atau 0,13%, S&P 500 naik 0,11%, dan Nasdaq Composite menguat 0,18%.

Pergerakan ini mencerminkan investor global masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama terkait potensi gangguan terhadap pasokan energi dunia.