Perlombaan pengembangan kecerdasan buatan (AI) kian menjadi ajang persaingan teknologi global, dengan Tiongkok menunjukkan pengaruh yang semakin besar. Dua pemain yang menonjol, ByteDance dan startup DeepSeek, memperkenalkan model AI yang diklaim mampu menyaingi—bahkan melampaui pada tolok ukur tertentu—model dari perusahaan Barat seperti OpenAI.
ByteDance, perusahaan induk TikTok, baru-baru ini meluncurkan model andalan Doubao-1.5-pro. Perusahaan menyatakan model ini menonjol dari sisi efisiensi dan kinerja, serta dirancang untuk bersaing di ranah penalaran AI. ByteDance juga mengklaim Doubao-1.5-pro mengungguli model OpenAI o1 pada benchmark AIME, sebuah tolok ukur yang digunakan untuk menilai kemampuan sistem AI dalam memahami dan merespons instruksi kompleks.
Salah satu poin utama yang ditekankan ByteDance adalah pendekatan pelatihan yang hemat sumber daya. Perusahaan menyebut menggunakan klaster server dengan dukungan fleksibel untuk chip kelas bawah, yang ditujukan untuk menekan biaya pelatihan. Strategi ini diposisikan sebagai cara untuk mempertahankan performa tinggi sekaligus menawarkan biaya penggunaan yang lebih terjangkau.
Dari sisi harga, ByteDance menerapkan skema yang agresif. Doubao-1.5-pro ditawarkan dengan tarif 2 yuan per satu juta token untuk model 32K dan 9 yuan per satu juta token untuk model 256K. Penetapan harga ini memperlihatkan upaya ByteDance untuk menarik beragam pengguna, dari perusahaan kecil hingga besar, yang membutuhkan solusi AI dengan biaya lebih rendah.
Di sisi lain, DeepSeek memperkenalkan dua model yang mereka sebut penting dalam pengembangan AI berkemampuan penalaran: DeepSeek-R1-Zero dan DeepSeek-R1. DeepSeek menyatakan kedua model tersebut memiliki kemampuan penalaran tingkat lanjut dan, pada tolok ukur tertentu, dapat mengungguli model Barat.
DeepSeek-R1-Zero dilatih secara eksklusif menggunakan Reinforcement Learning (RL) tanpa penyesuaian klasik. Menurut perusahaan, pendekatan ini memungkinkan model mengembangkan kemampuan secara mandiri, termasuk menghasilkan rantai pemikiran yang panjang dan memikirkan solusi masalah.
Sementara itu, DeepSeek-R1 menggabungkan RL dengan fine-tuning yang dipantau. DeepSeek menyebut model ini menunjukkan keunggulan di berbagai bidang seperti matematika, pemrograman, dan pengetahuan umum, serta mencapai kinerja yang setara dengan model o1 dari OpenAI. DeepSeek juga mengklaim R1 lebih unggul dalam benchmark seperti AIME, MATH-500, dan SWE-bench Verified.
DeepSeek turut menonjolkan aspek biaya. Perusahaan menawarkan penggunaan modelnya dengan harga 16 yuan (sekitar US$2,20) per satu juta token, jauh di bawah tarif yang disebutkan untuk OpenAI, yakni 438 yuan untuk penggunaan yang sama.
Kemajuan ByteDance dan DeepSeek dinilai memperlihatkan laju pengembangan AI Tiongkok yang tetap cepat meski berada dalam konteks hambatan geopolitik, termasuk pembatasan ekspor Amerika Serikat terhadap chip AI canggih. Jika klaim performa dan efisiensi biaya ini terbukti luas dalam penggunaan, perkembangan tersebut berpotensi menekan pangsa pasar pemain Barat, baik dari sisi metrik kinerja maupun efektivitas biaya.
Namun, perusahaan-perusahaan Tiongkok juga menghadapi tantangan teknologi dan regulasi. Disebutkan bahwa model DeepSeek memiliki keterbatasan, antara lain kesulitan mempertahankan bahasa dan belum mendukung pemanggilan fungsi, dialog yang diperluas, maupun keluaran JSON. Selain itu, sistem AI di Tiongkok berada di bawah regulasi ketat yang dapat membatasi jawaban untuk topik tertentu, yang berpotensi memengaruhi pengembangan dan pemanfaatannya.
Di Amerika Serikat, kemajuan AI Tiongkok memicu respons beragam. Pemerintah AS disebut merencanakan kontrol ekspor yang lebih ketat terhadap chip AI canggih ke Tiongkok untuk memperlambat kemajuan teknologi negara tersebut. Namun, kebijakan ini juga menuai kritik. Asosiasi Industri Semikonduktor (SIA) memperingatkan pembatasan dapat merugikan daya saing ekonomi AS, sementara Nvidia menyebut aturan tersebut “sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya” dan menyatakan kekhawatiran atas potensi melemahnya kepemimpinan AS dalam pengembangan AI.
Di level industri, perusahaan teknologi AS meningkatkan investasi penelitian agar tetap kompetitif. OpenAI memperkenalkan model o3 yang dikatakan memiliki kemampuan penalaran lebih baik, sementara Anthropic mengembangkan versi terbaru dari model Claude dalam beberapa bulan.
Pembatasan akses juga muncul sebagai bagian dari dinamika persaingan. OpenAI disebut berencana memblokir akses API-nya di Tiongkok, yang dapat menjadi tantangan bagi startup setempat. Microsoft, sebagai respons, menawarkan panduan bagi pelanggan untuk beralih ke layanan lokal.
Meski ketegangan meningkat, kerja sama lintas negara tetap terjadi. Disebutkan jumlah kolaborasi penelitian AI antara AS dan Tiongkok meningkat empat kali lipat dalam satu dekade terakhir. Selain itu, beberapa perusahaan AS berinvestasi pada pusat data di luar Tiongkok untuk mendapatkan akses ke chip AI canggih sekaligus mengurangi risiko geopolitik.
Menguatnya peran model AI Tiongkok juga memunculkan pertanyaan soal keselamatan dan etika. Kritikus memperingatkan potensi penyensoran dan manipulasi oleh sistem AI yang dikendalikan negara, sehingga memunculkan seruan untuk regulasi dan pengawasan yang lebih besar terhadap teknologi tersebut.
Secara keseluruhan, kemajuan ByteDance dan DeepSeek menegaskan posisi Tiongkok yang kian penting dalam lanskap AI global. Persaingan antara AS dan Tiongkok diperkirakan tetap intens, seiring kedua negara memperkuat riset, strategi ekonomi, dan kebijakan yang terkait erat dengan kepentingan geopolitik. Dampak jangka panjangnya terhadap ekosistem teknologi global masih akan ditentukan oleh perkembangan berikutnya, termasuk bagaimana klaim kinerja, biaya, serta isu regulasi dan etika diuji dalam penerapan nyata.