Jakarta—Bursa calon presiden (capres) 2024 mulai mengemuka setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden periode 2019-2024. Lembaga survei LSI Denny JA menyebut ada 15 nama yang dinilai berpotensi maju dalam Pilpres 2024.
Dalam pemetaannya, LSI Denny JA membagi kandidat ke dalam tiga latar belakang jabatan. Dari kelompok kepala daerah, muncul nama Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.
Dari latar belakang partai politik, tercatat Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, mantan Wakil Ketua Umum Gerindra Sandiaga Uno, Komandan Kogasma Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, Ketua DPP PDIP Puan Maharani, serta Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar.
Sementara dari jabatan pemerintahan, nama yang disebut antara lain Menteri Keuangan Sri Mulyani, Kepala Badan Intelijen Nasional Jenderal Pol (Purn) Budi Gunawan, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, dan mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo.
Pengamat politik The Habibie Center, Bawono Kumoro, menilai kepala daerah menjadi sosok yang paling potensial dipilih pada Pilpres 2024. Menurut dia, kepala daerah memiliki ruang untuk menunjukkan prestasi melalui kebijakan yang dijalankan.
“Saya kira saya masih melihat setidaknya dua sampai tiga pemilu ke depan sumber kepemimpinan kita masih berasal dari kepala daerah,” kata Bawono kepada CNNIndonesia.com, Selasa (2/7).
Bawono berpendapat era kepemimpinan dari kalangan aktivis, militer, dan politisi sudah usai setelah desentralisasi pemerintahan. Ia juga menilai kondisi politik Indonesia yang cenderung stabil membuat tiga latar belakang tersebut tidak lagi efektif dijual dalam pemilu.
Ia menambahkan, jika ada kepala daerah yang masuk bursa Pilpres, peluang terbesar dinilai berasal dari Pulau Jawa. Menurutnya, pembangunan dan pemberitaan nasional masih terfokus di wilayah tersebut. “Jadi kepala daerah berprestasi di pulau Jawa mempunyai peluang lebih besar untuk menduduki kepemimpinan nasional,” ujarnya.
Meski demikian, Bawono mengingatkan calon pemimpin Indonesia ke depan perlu memiliki kemampuan di bidang pembangunan sumber daya manusia. Ia menyebut tantangan itu menjadi salah satu yang terbesar di tengah gempuran teknologi sosial dan globalisme.
Pandangan serupa disampaikan pengamat politik Universitas Padjajaran, Idil Akbar. Ia menilai kepala daerah berpeluang besar karena memiliki dua basis dukungan, yakni dari partai politik dan masyarakat. Selain itu, kemampuan mengelola pemerintahan di tingkat daerah dinilai dapat menjadi modal dalam kontestasi pemilu.
“Sementara dari kalangan parpol seperti AHY (Agus Harimurti Yudhoyono), Puan (Maharani), dan Muhaimin (Iskandar) agak berat,” kata Idil.
Idil juga menilai kandidat yang pernah menjabat di pemerintahan memiliki potensi yang hampir sama dengan kepala daerah karena sama-sama memiliki ruang untuk menunjukkan kepemimpinan dan kemampuan membuat kebijakan. Ia menyimpulkan peluang terbesar tetap pada kepala daerah yang juga berlatar belakang politik dan berpotensi didampingi figur profesional.
Terkait kriteria pemimpin ke depan, Idil menekankan pentingnya kemampuan meningkatkan kualitas ekonomi dan sumber daya manusia Indonesia karena persaingan ekonomi diperkirakan semakin ketat.
Di sisi lain, Direktur Riset Populi Center Usep S Ahyar memprediksi dinamika politik menuju Pilpres 2024 akan meningkat. Ia menilai situasi itu dipengaruhi oleh ketiadaan kontestan petahana karena Jokowi sudah dua kali menjabat, sehingga lebih banyak pihak berupaya memanfaatkan momentum politik.
“Jadi proses masih panjang, tapi saya kira namanya politik itu juga kan waktu itu sempit,” ujar Usep kepada CNNIndonesia.com.
Usep menuturkan peningkatan dinamika tidak hanya datang dari politisi, tetapi juga kepala daerah dan kalangan eksekutif yang berupaya mendongkrak popularitas. Ia menyebut momentum di kabinet dan pilkada sebagai ruang yang paling potensial dijadikan modal karena bersinggungan langsung dengan masyarakat sebagai pemilih.
Usep meyakini dinamika menuju 2024 tidak akan memengaruhi roda pemerintahan Jokowi-Ma’ruf. Menurutnya, para kandidat dari berbagai latar belakang justru akan berlomba menampilkan kinerja terbaik bagi masyarakat.