BERITA TERKINI
Cerpen "Selamat Hari Pahlawan, Mbah!" Dibaca lewat Kajian Nasionalisme Hans Kohn

Cerpen "Selamat Hari Pahlawan, Mbah!" Dibaca lewat Kajian Nasionalisme Hans Kohn

Nasionalisme kerap dibayangkan sebagai keberanian para pejuang di medan perang. Namun, dalam pemahaman yang lebih luas, nasionalisme juga dimaknai sebagai kecintaan pada tanah air yang dapat dimiliki setiap orang. Gagasan ini menjadi salah satu titik berangkat pembacaan cerpen Selamat Hari Pahlawan, Mbah! karya Dukut Imam Widodo melalui kajian nasionalisme Hans Kohn.

Hans Kohn, filsuf dan sejarawan Amerika yang dikenal mempelopori studi akademis tentang nasionalisme, memandang nasionalisme sebagai paham yang menempatkan kesetiaan tertinggi individu kepada negara. Kerangka tersebut kerap digunakan dalam kajian akademik untuk membedah karya sastra, termasuk cerpen dan novel, guna melihat bagaimana sikap cinta tanah air direpresentasikan melalui tokoh, peristiwa, dan konflik.

Dalam konteks pendidikan, nasionalisme disebut dapat diintegrasikan melalui pembelajaran, termasuk lewat buku pelajaran. Buku pelajaran diposisikan sebagai alat bantu guru dalam menyampaikan informasi kepada siswa, sekaligus sebagai sarana pendidikan karakter. Guru diharapkan dapat menanamkan rasa nasionalisme melalui kegiatan-kegiatan, termasuk aktivitas di luar sekolah.

Selain melalui buku pembelajaran, nasionalisme juga tampak dalam karya sastra. Sejumlah tokoh di Indonesia disebut banyak menulis tentang tema ini, seperti Bung Karno, Tan Malaka, dan Pramoedya Ananta Toer. Dalam daftar penulis yang mengangkat nasionalisme, Dukut Imam Widodo juga hadir lewat cerpen Selamat Hari Pahlawan, Mbah! yang menyoroti pengalaman pejuang pada peristiwa 10 November 1945.

Cerpen tersebut berkisah tentang tiga sahabat—Kasmuri, Sulkan, dan Waras—yang digambarkan sebagai pejuang kemerdekaan. Setelah perang berakhir, mereka memilih tidak lagi menjadi tentara dengan alasan sudah terlalu banyak membunuh. Ketiganya kemudian menjalani masa tua dengan pekerjaan sederhana: ada yang menjadi tukang becak, tukang tambal ban, dan pengamen karena mahir bermain gitar.

Seiring waktu, usia membuat mereka tak lagi sekuat masa muda. Tahun demi tahun berlalu hingga akhirnya hanya Kasmuri yang masih hidup, sementara dua sahabatnya telah meninggal lebih dulu.

Pada 10 November 2022, Kasmuri diceritakan mengenang masa lalu. Biasanya, ia bersama kawan-kawannya menghadiri peringatan Hari Pahlawan di Taman Makam Pahlawan. Namun, kali itu Kasmuri tak lagi mampu berjalan seperti dahulu. Ia hanya mengenakan seragam veteran dan berdiam di gubuknya.

Di hari yang sama, upacara Hari Pahlawan digelar di dekat rumahnya dan dihadiri masyarakat sipil, guru, polisi, serta Satpol PP. Kasmuri kemudian diajak keluar menggunakan kursi roda oleh Surti. Tanpa diduga, seluruh peserta upacara menghadap Kasmuri dalam suasana hening. Pak RT lalu menyampaikan bahwa karena Kasmuri tidak bisa menghadiri upacara di Taman Makam Pahlawan, warga datang ke dekat rumahnya untuk melaksanakan upacara di sana.

Dalam bagian akhir cerita, Kasmuri yang sebelumnya digambarkan tidak bisa berdiri, tiba-tiba mampu berdiri tegak di depan kursi roda sambil memberi penghormatan kepada semua yang hadir. Tiga hari setelah upacara tersebut, Kasmuri dikabarkan wafat. Wasiatnya adalah tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, melainkan di samping kuburan istrinya.

Bagian analisis dalam tulisan ini menempatkan cerpen tersebut sebagai bahan pembacaan untuk melihat sikap nasionalisme para tokohnya. Analisis dipahami sebagai metode menguraikan makna melalui kutipan-kutipan yang dinilai menunjukkan sikap nasionalisme dalam cerita, meski dalam naskah yang dirujuk hanya disebutkan bahwa penulis memilih beberapa kutipan tanpa merinci kutipan-kutipan tersebut.

Melalui kisah para veteran yang menjalani hari tua dalam kesederhanaan, cerpen Selamat Hari Pahlawan, Mbah! menghadirkan gambaran nasionalisme yang tidak semata hadir di medan perang, tetapi juga dalam ingatan, penghormatan, dan relasi masyarakat terhadap mereka yang pernah terlibat dalam perjuangan.