Delapan negara NATO di Eropa—Jerman, Prancis, Swedia, Norwegia, Finlandia, Belanda, Inggris, dan Denmark—dikabarkan telah mengerahkan pasukan ke Greenland. Pengerahan ini disebut sebagai bagian dari kegiatan pengintaian dan latihan militer di ibu kota Greenland, Nuuk, di tengah rencana Amerika Serikat (AS) yang berencana mengakuisisi pulau tersebut.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mengonfirmasi melalui unggahan di akun media sosial resminya di X bahwa personel militer pertama Prancis sudah dalam perjalanan menuju lokasi.
Sementara itu, Duta Besar AS untuk NATO, Matthew Whitaker, menyampaikan pembelaan atas fokus Washington terhadap Greenland di tengah kritik keras dari negara-negara Eropa. Dalam wawancara dengan Fox News, Whitaker menilai Eropa memiliki “kecenderungan untuk bereaksi berlebihan” terhadap langkah AS di wilayah Arktik.
Pernyataan Whitaker muncul setelah Prancis mengumumkan latihan militer baru bersama Denmark sebagai respons atas ambisi aneksasi pemerintahan Donald Trump. Whitaker menegaskan bahwa keamanan Arktik merupakan kepentingan pertahanan inti AS.
Ia menjelaskan bahwa mencairnya es kutub telah mengubah peta geopolitik Arktik dan membuka rute navigasi baru, yang menurutnya membuat Greenland memiliki nilai strategis penting bagi pertahanan AS.
“Keamanan Greenland, yang merupakan sayap utara dari daratan Amerika Serikat, sangatlah krusial,” ujar Whitaker, seperti dilansir Fox News, dikutip Minggu (18/1/2026). Ia menambahkan bahwa benteng pertahanan di belahan bumi barat dinilai penting untuk pengawasan aset angkatan laut dan keamanan jangka panjang AS.
Berbicara dari Ronald Reagan Presidential Library, Whitaker juga mengangkat doktrin “perdamaian melalui kekuatan” (peace through strength) ala Ronald Reagan untuk mendorong sekutu NATO meningkatkan anggaran pertahanan. Ia menyindir kondisi militer Eropa saat ini, seraya menyebut operasi AS di Venezuela (Operasi Midnight Hammer) sebagai contoh kemampuan AS memproyeksikan kekuatan, sementara banyak sekutu NATO dinilai belum mampu menyamai level tersebut.
Whitaker turut mendesak Uni Eropa melakukan deregulasi ekonomi guna mendorong pertumbuhan kapital yang disebutnya diperlukan untuk mendanai pertahanan. “Eropa dan Uni Eropa harus melepaskan ikatan tangan di belakang punggung mereka,” tegasnya.
Menurut Whitaker, prioritas utamanya adalah memastikan komitmen politik yang disepakati di Den Haag tahun lalu benar-benar berubah menjadi kapabilitas militer nyata. Ia memuji negara-negara Baltik—Latvia, Lituania, dan Estonia—serta negara-negara Nordik yang dinilai lebih serius menanggapi ancaman Rusia karena kedekatan geografis. Ia merujuk pada aneksasi Krimea pada 2014 dan invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 sebagai alarm bagi keamanan kawasan.
Whitaker juga menyebut pertemuan antara Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, serta pihak Denmark dan Greenland baru-baru ini berlangsung konstruktif. Ia meminta semua pihak tetap berkepala dingin untuk menghindari eskalasi yang tidak perlu.

