MATARAM — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menargetkan realisasi investasi sebesar Rp68 triliun pada 2026, meski situasi global tengah dibayangi ketidakpastian akibat konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat. Target tersebut meningkat dari angka sebelumnya Rp61,09 triliun.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB Irnadi Kusuma mengatakan pihaknya tetap optimistis mengejar target tersebut. “Kita optimis mencapai target yang tahun ini naik dari Rp61,09 triliun menjadi Rp68 triliun. Insyaallah kita tetap akan berupaya maksimal mengejar target ini,” ujarnya.
Menurut Irnadi, gejolak di Timur Tengah berpengaruh terhadap strategi promosi investasi, terutama untuk kegiatan promosi ke kawasan tersebut. Namun, NTB tidak lagi bergantung pada pasar Timur Tengah dan mengalihkan fokus promosi ke wilayah yang dinilai lebih stabil, seperti Asia Timur, Asia Tenggara, Australia, Oceania, Eropa Barat, hingga Amerika Utara. “Kalau dari sisi keluar promosi ada pengaruhnya gejolak di Timur Tengah. Tapi kalau yang masuk secara investasi mungkin tidak terlalu berpengaruh,” katanya.
Pemerintah daerah juga memperkuat komunikasi dengan investor yang sudah lebih dulu masuk. Pendekatan ini diharapkan menciptakan efek berantai, di mana investor yang telah berinvestasi dapat membantu meyakinkan calon investor baru bahwa iklim investasi di NTB tetap aman dan stabil.
Optimisme tersebut didukung capaian realisasi investasi pada 2025 yang melampaui target nasional. Dari target Rp61,09 triliun yang ditetapkan pemerintah pusat, NTB mencatat realisasi Rp61,1 triliun. Capaian itu menjadi pijakan untuk mengejar target yang lebih tinggi pada 2026.
Secara sebaran wilayah, investasi terbesar disebut terkonsentrasi di Kabupaten Sumbawa Barat, Lombok Tengah, dan Kota Mataram. Adapun sektor unggulan meliputi energi dan sumber daya mineral (ESDM), pariwisata, ekonomi kreatif, serta industri. Dari sekitar 4.000 realisasi perizinan yang tercatat, sektor peternakan masih menjadi yang paling dominan.
Meski demikian, Pemprov NTB mengakui masih ada tantangan, seperti ketimpangan investasi antar daerah, kendala teknis pada sistem Online Single Submission (OSS) berbasis risiko, serta kebutuhan pembaruan peta potensi investasi daerah. Sejumlah langkah pembenahan disiapkan, antara lain penguatan digitalisasi layanan, optimalisasi konsultasi investasi, dan pengawasan perizinan berbasis risiko. Pemprov juga mulai mendorong investasi hijau dan berkelanjutan, serta mempercepat regulasi strategis dan menyiapkan insentif bagi investor.
Untuk mendukung target Rp68 triliun, NTB menyiapkan sejumlah proyek bernilai besar. Salah satunya pembangunan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) oleh PT Berkah Energi Lombok yang bermitra dengan PT Shine Green Energy Indonesia, dengan nilai investasi Rp3,1 triliun.
Proyek EBT tersebut mencakup pembangunan tiga pembangkit berkapasitas total 130 MW, terdiri dari PLTS di Lombok Utara, Dompu, dan Bima, serta PLTB di Lombok Barat. Pembangunan direncanakan berlangsung pada 2026 hingga 2027. “Untuk proyek EBT investornya sudah jelas, kita kejar realisasi di 2026. Ini salah satu tulang punggung target investasi NTB,” kata Irnadi.
Di sektor pariwisata, pemerintah daerah menawarkan sejumlah proyek hotel bintang lima, termasuk Maukita Mandalika Hotel di kawasan Kuta dengan nilai Rp298,7 miliar. Selain itu, terdapat proyek hotel eksklusif di kawasan seven spring under sea Pantai Kerakas senilai Rp277,9 miliar, Kuta Height Hotel dengan investasi Rp821,8 miliar, serta proyek resort di Gili Gede.
Sektor riil juga masuk dalam daftar proyek yang dikejar realisasinya. NTB menyiapkan proyek agribisnis peternakan sapi pedaging senilai Rp556 miliar di Sumbawa, dengan target produksi ribuan ekor sapi serta ribuan ton daging per tahun.
Di sektor perikanan, Pemprov NTB menyiapkan investasi budidaya udang vaname senilai Rp507 miliar di Sumbawa Barat. Proyek ini menargetkan produksi 360 juta benur dan ribuan ton udang segar per tahun. Irnadi menyebut pemerintah daerah mengejar realisasi sejumlah proyek besar pada 2026, mulai dari pembangkit listrik EBT, Seaplane di Bendungan Batujai, hingga hotel bintang lima, peternakan sapi, dan budidaya udang.

