BERITA TERKINI
Diplomasi Kemanusiaan sebagai Respon Terhadap Bencana Global

Diplomasi Kemanusiaan sebagai Respon Terhadap Bencana Global

Program on Humanitarian Action (PoHA) dari Institute of International Studies (IIS) Universitas Gadjah Mada (UGM) bekerja sama dengan RESPECT Program dari Osaka University menggelar seminar bertajuk pentingnya diplomasi kemanusiaan dalam agenda diplomasi internasional. Kegiatan ini berlangsung di Sekolah Pascasarjana UGM pada Kamis (24/10), dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan pemahaman para akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan terhadap peran diplomasi kemanusiaan.

Dalam seminar tersebut, Prof. Stefano T. Tsukamoto, Koordinator Kantor Satelit RESPECT Program Osaka University di UGM, menyoroti bahwa perkembangan globalisasi membuat tragedi kemanusiaan tidak lagi dapat dipandang sebagai masalah domestik semata. Krisis kemanusiaan yang muncul akibat bencana alam maupun ulah manusia menuntut adanya solidaritas global untuk penanganan yang efektif.

Menurut Prof. Stefano, masyarakat perlu dipersiapkan agar mampu mengantisipasi dan merespon bencana secara tepat, terutama melalui pembentukan sistem komunikasi yang memperkuat ketahanan sosial. "Informasi yang terkoordinasi menjadi bagian penting dalam upaya antisipasi dan respons terhadap kejadian bencana," ujarnya.

Sementara itu, Dr. Jacinta O’Hagan dari Australian National University menegaskan perlunya kontribusi akademisi, praktisi, dan pembuat kebijakan dalam menyusun kerangka pemikiran yang jelas mengenai diplomasi kemanusiaan. Ia menawarkan pendekatan akademik untuk memahami aktivitas diplomasi dalam konteks kemanusiaan.

Dr. Jacinta menambahkan bahwa tantangan utama diplomasi kemanusiaan berkaitan dengan kekuasaan yang dimiliki oleh negara. Politik diplomasi kemanusiaan dirancang untuk melayani kepentingan negara sekaligus tujuan kemanusiaan. "Meskipun isu kemanusiaan semakin meluas, esensi utama tetap pada proteksi dan asistensi kepada mereka yang menghadapi krisis," jelasnya.

Patrick Megevand, Koordinator Komunikasi Delegasi Regional International Committee of the Red Cross (ICRC) Indonesia Timor Leste, menjelaskan bahwa ICRC merupakan contoh nyata diplomasi kemanusiaan yang telah berjalan selama ini. Organisasi ini berpegang pada prinsip tidak memihak, netral, dan independen sebagai dasar pelaksanaan aksi kemanusiaan di berbagai lokasi.

"Prinsip-prinsip tersebut diterapkan baik pada negara maupun aktor non-negara, sebagai bukti komitmen ICRC dalam menghormati hukum internasional selama menjalankan tugas kemanusiaan," pungkas Patrick.