Di tengah meningkatnya konflik di Timur Tengah dan ketegangan di Strait of Hormuz, rangkaian pertemuan yang dilakukan Duta Besar Iran di Indonesia berlangsung relatif tanpa sorotan luas. Namun, langkah tersebut dinilai menyimpan pesan penting dalam konteks diplomasi.
Alih-alih menempuh jalur yang terbuka dan ramai, Dubes Iran memilih pendekatan yang lebih senyap. Ia disebut datang ke kediaman Jusuf Kalla, berkomunikasi dengan Megawati Soekarnoputri, serta menemui Joko Widodo di Solo.
Bagi sebagian pihak, rangkaian pertemuan ini terlihat tidak lazim. Namun dalam praktik diplomasi, pertemuan-pertemuan semacam itu kerap menjadi ruang untuk menyampaikan pesan substantif dan membangun jalur komunikasi yang lebih cair.
Pertemuan Dubes Iran dengan Jusuf Kalla, misalnya, tidak hanya disebut sebagai silaturahmi. Dalam pertemuan tersebut, Iran menyampaikan kondisi negaranya, termasuk korban sipil, eskalasi konflik, serta harapan dukungan dari dunia Islam, termasuk Indonesia.
Selain itu, pembahasan juga mencakup kemungkinan peran Indonesia sebagai mediator dalam konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Jusuf Kalla menyebut Prabowo Subianto siap menjadi penengah, dengan catatan semua pihak menghendaki.
Dalam dinamika diplomasi global, langkah seperti ini dipandang bukan sekadar kebetulan. Negara seperti Iran, dalam penilaian yang berkembang, jarang mengambil langkah tanpa perhitungan.

