Jakarta - Djauhari Oratmangun, Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia dan Belarus, menghadapi tantangan baru dalam tugasnya di Moskwa. Setelah menyelesaikan karirnya sebagai Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN, Djauhari resmi dilantik pada 21 Desember 2011 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengemban amanah di Rusia.
Meski sudah terbiasa dengan suhu dingin saat bertugas di Markas Besar PBB di New York, Djauhari mengaku mengalami sensasi berbeda saat pertama kali tiba di Moskwa dengan suhu mencapai minus 30 derajat Celsius. Namun tekadnya untuk mengabadikan momen di Lapangan Merah mengalahkan rasa dingin yang menyergap.
Djauhari yang akrab disapa Pak Djo mengunggah foto ikonik tersebut di media sosial sebagai tanda telah tiba di ibu kota Rusia pada Januari 2012, di tengah musim salju yang lebat. Ia juga menyempatkan diri berjalan di Gorky Park sembari meresapi suasana dan perubahan yang tengah berlangsung di negara tersebut.
Karier Diplomasi dan Keahlian Multilateral
Djauhari memulai karier diplomatiknya di Perutusan Tetap Indonesia untuk PBB di Jenewa, tempat ia mendalami diplomasi dan perdagangan internasional, khususnya negosiasi multilateral. Keahliannya dalam bidang ini membuatnya dikenal piawai dalam memimpin negosiasi di ASEAN.
Menurut mantan Duta Besar RI untuk Polandia, Hazairin Pohan, diplomasi multilateral merupakan bidang utama Djauhari yang telah lama ditekuni. Latar belakang ini menjadi modal penting saat ia menjalankan tugas di Rusia, yang juga melibatkan dinamika hubungan bilateral dan isu-isu multilateral global.
Peran Strategis Rusia dan Hubungan Bilateral
Rusia memiliki posisi penting di kancah internasional, baik dalam politik, perlucutan senjata, maupun keamanan global. Sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB, Rusia memiliki pengaruh besar dalam isu-isu dunia, terutama di kawasan Eropa dan Asia Pasifik.
Djauhari menilai Rusia memiliki peran signifikan dalam menjaga stabilitas politik dan ekonomi global. Oleh karena itu, Indonesia perlu menjalin aliansi strategis dengan Rusia untuk memperkuat posisi dalam percaturan ekonomi regional dan internasional.
Fokus kerja sama bilateral Indonesia-Rusia di antaranya adalah pengembangan infrastruktur skala besar, pendidikan, dan sektor energi gas. Djauhari menekankan pentingnya memperluas hubungan ini demi manfaat jangka panjang bagi kedua negara.
Tantangan dan Potensi Kerja Sama
Djauhari mengakui bahwa pemahaman masyarakat dan pemerintah Indonesia mengenai Rusia masih terbatas, padahal peluang kerja sama sangat besar. Salah satu aspek yang perlu ditingkatkan adalah partisipasi mahasiswa Indonesia yang belajar di Rusia, yang saat ini masih sangat kecil dibandingkan negara lain seperti Vietnam, China, dan Malaysia.
Pada masa Presiden Soekarno, jumlah mahasiswa Indonesia di Rusia pernah mencapai lebih dari 20.000 orang, menunjukkan visi jauh ke depan tentang potensi hubungan kedua negara.
Momentum Diplomasi di Kremlin
Setelah lebih dari enam bulan menjabat, Djauhari telah menyerahkan surat kepercayaan kepada Presiden Rusia Dmitry Medvedev di Istana Kremlin, Moskwa. Acara tersebut berlangsung dengan suasana hangat, diiringi simbol-simbol khas Rusia seperti bunga dan vodka, serta lagu "From Russia with Love" yang menguatkan nuansa diplomasi bilateral.
Dengan segala dinamika dan potensi yang ada, Djauhari Oratmangun melanjutkan perannya sebagai Duta Besar RI untuk Rusia dan Belarus, membawa harapan untuk mempererat hubungan kedua negara di berbagai bidang.