Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan Ankara mengintensifkan upaya diplomasi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan menyusul serangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran. Di saat sejumlah negara menempuh langkah militer, Turki menegaskan memilih jalur dialog untuk mencegah konflik meluas.
Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Selasa, 3 Maret 2026, Erdogan menilai konflik yang berkembang telah memperbesar ketidakstabilan di Timur Tengah. Ia menyoroti serangan terhadap Iran serta respons Teheran yang disebutnya melibatkan peluncuran rudal dan drone ke sejumlah negara di kawasan Teluk.
“Serangan terhadap Iran, dan serangan rudal serta drone kamikaze terhadap negara-negara tetangga di Teluk memicu ketidakstabilan,” kata Erdogan.
Erdogan menegaskan Turki akan mendorong penyelesaian melalui perundingan. “Melalui diplomasi yang berorientasi pada perdamaian, kami melakukan upaya intensif untuk menyelesaikan masalah di meja perundingan,” ujarnya.
Seiring pernyataan tersebut, aktivitas diplomatik Turki dilaporkan bergerak cepat. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan bertemu utusan Washington untuk Suriah, Tom Barrack. Fidan juga berdiskusi dengan Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper terkait situasi keamanan dan opsi diplomatik.
Selain itu, Fidan melakukan komunikasi dengan Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani. Ia juga berkomunikasi dengan Perdana Menteri Yunani Giorgos Gerapetritis serta Presiden wilayah otonom Kurdistan Irak Nechirvan Barzani.
Rangkaian kontak itu mencerminkan upaya Turki untuk memainkan peran sebagai penghubung di antara berbagai pihak di tengah konflik yang berkembang.
Di luar Turki, Oman juga menyuarakan pentingnya jalur damai. Menteri Luar Negeri Oman Badr bin Hamad Al Busaidi mengatakan pintu diplomasi tetap terbuka. Ia menyebut pembicaraan di Jenewa sebelumnya telah menunjukkan kemajuan nyata menuju potensi kesepakatan antara Iran dan Amerika Serikat.
“Saya masih percaya pada kekuatan diplomasi untuk menyelesaikan konflik ini,” kata Al Busaidi.
Oman diketahui menjadi mediator dalam tiga putaran terakhir perundingan nuklir Iran–Amerika Serikat sebelum pecah perang terbuka. Di tengah meningkatnya risiko keamanan dan kekhawatiran terhadap jalur energi global, Turki dan Oman menempatkan diplomasi sebagai salah satu jalur yang masih diupayakan untuk meredakan ketegangan.

