Lagu daerah “Es Lilin” yang terus dikenang masyarakat Sunda menunjukkan bagaimana budaya lokal dapat bertahan melampaui perubahan zaman. Dalam tradisi Sunda, lagu daerah tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana pewarisan identitas budaya dan memori kolektif masyarakat.
Di sisi kuliner, es lilin dikenal lewat sensasi dingin serta perpaduan santan kelapa hijau dan manis gula kawung. Di Bandung, jajanan ini bukan semata pelepas dahaga, melainkan bagian dari ekspresi gastronomi lokal yang mencerminkan kedekatan makanan tradisional dengan karakter budaya daerah.
Namun, bila dibandingkan dengan negara lain seperti Thailand yang menguatkan citra kulinernya melalui strategi “Kitchen of the World”, kuliner tradisional Indonesia—termasuk es lilin—dinilai belum memiliki posisi kuat dalam diplomasi budaya internasional. Tantangan utamanya disebut bukan pada rasa, melainkan pada keterbatasan narasi budaya dan belum meratanya standar produk untuk mendukung pengembangan yang lebih luas.
Tanpa kemasan yang layak dan jaminan kebersihan yang konsisten, es lilin berisiko tetap dipandang sebagai nostalgia lokal. Padahal, pengelolaan kuliner lokal berbasis prinsip pariwisata berkelanjutan dapat menjadi penggerak ekonomi daerah.
Dalam tren pariwisata saat ini, wisatawan tidak hanya mencari makanan, tetapi juga pengalaman budaya yang menyertainya. Mereka cenderung tertarik pada asal-usul nama, proses tradisional, hingga cerita budaya di balik sebuah produk. Pendekatan storytelling dinilai dapat memperkuat pengalaman emosional wisatawan sekaligus meningkatkan daya tarik destinasi kuliner, sehingga es lilin dapat diposisikan lebih dari sekadar produk sederhana, melainkan bagian dari warisan budaya tak benda yang bernilai simbolik.
Persoalan lain yang turut menentukan penerimaan pasar adalah higienitas. Kekhawatiran mengenai penggunaan bahan tambahan yang tidak aman pada jajanan tradisional disebut masih menjadi hambatan, terutama bagi wisatawan asing. Keamanan pangan dipandang sebagai fondasi penting untuk membangun kepercayaan konsumen internasional terhadap produk pangan tradisional. Karena itu, jika es lilin ingin dikembangkan ke pasar yang lebih luas, proses produksinya perlu memenuhi standar sanitasi yang baik tanpa menghilangkan cita rasa aslinya.
Pengembangan es lilin secara profesional juga dinilai berpotensi memberi dampak ekonomi lebih luas melalui rantai produksi lokal. Konsep farm-to-table, misalnya, dapat menghubungkan bahan baku seperti gula kawung langsung dari petani ke pelaku usaha pengolahan pangan di perkotaan, sehingga manfaat ekonomi lebih merata hingga tingkat produsen bahan baku.
Untuk memperkuat posisinya sebagai aset wisata berbasis warisan budaya, dukungan pemerintah daerah dan pelaku usaha dinilai diperlukan. Langkah yang disorot antara lain pengakuan formal, pelatihan kebersihan, kurasi produk, serta penguatan kapasitas pedagang agar mampu menyampaikan nilai sejarah dan cerita di balik produk kepada konsumen.
Pada akhirnya, es lilin dinilai memiliki peluang untuk masuk dalam strategi gastrodiplomasi Indonesia—upaya membangun citra bangsa melalui kekuatan makanan khas. Dengan inovasi yang tetap menjaga identitas lokal, jajanan sederhana ini dipandang dapat menjadi medium pengenalan budaya Indonesia di tingkat internasional.

