Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu menjadi sinyal penting bagi stabilitas geopolitik. Namun, perhatian pasar keuangan global kini tidak lagi terpusat pada konflik tersebut. Investor cenderung mengalihkan fokus ke faktor-faktor fundamental seperti valuasi, kinerja perusahaan, dan prospek pertumbuhan ekonomi.
Pengumuman perpanjangan gencatan senjata disampaikan pada Selasa malam waktu AS atau Rabu pagi WIB, hanya beberapa jam sebelum masa gencatan senjata sebelumnya berakhir. Langkah ini dinilai meredakan risiko eskalasi militer dalam waktu dekat sekaligus memperkuat ekspektasi bahwa jalur diplomasi masih terbuka.
Respons pasar yang relatif tenang dipandang sebagai cerminan meningkatnya keyakinan investor bahwa skenario terburuk kemungkinan tidak terjadi. Pada pukul 15.52 WIB, harga minyak global masih bergerak dinamis dengan Brent crude di kisaran US$99,81 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) sekitar US$90,86 per barel. Meski tetap tinggi, pergerakan yang stabil mengindikasikan pasar mulai beradaptasi terhadap kondisi geopolitik yang ada.
Pelaku pasar juga semakin menyingkirkan kemungkinan risiko ekstrem, termasuk lonjakan harga minyak hingga US$200 per barel. Brian Stutland dari Equity Armor Investments menyebut pasar sedang “membuka halaman baru”, dengan pandangan bahwa konflik memasuki fase menuju resolusi, bukan eskalasi. Senada, Ray Farris di Eastspring Investments menilai pasar mulai menghapus skenario terburuk dari perhitungan dan kembali menitikberatkan pada kinerja korporasi serta pertumbuhan ekonomi.
Perubahan sentimen itu tercermin pada penguatan pasar saham global. Indeks MSCI World Index disebut tidak hanya pulih dari tekanan terkait konflik, tetapi juga telah melampaui level sebelum ketegangan memuncak, menandakan optimisme investor kembali menguat.
Dalam beberapa pekan terakhir, pasar dinilai menunjukkan pola bahwa peristiwa geopolitik tidak lagi menjadi penggerak utama dalam jangka menengah. Investor kembali menggunakan pendekatan berbasis valuasi dan fundamental bisnis. Grace Peters dari J.P. Morgan Private Bank melihat situasi ini sebagai peluang, dengan rasio price-to-earnings S&P 500 yang berada di bawah rata-rata lima tahunnya sehingga dinilai menawarkan titik masuk yang lebih menarik untuk investor jangka menengah hingga panjang.
Ia juga menilai musim laporan keuangan dapat menjadi katalis, dengan kombinasi valuasi yang lebih sehat dan ekspektasi laba yang memberi fondasi bagi pergerakan pasar selanjutnya.
Di sektor energi, pembatasan di Selat Hormuz masih berlangsung, tetapi pasar minyak dinilai menunjukkan kemampuan adaptasi. Harga minyak yang tetap tinggi tidak semata dipandang sebagai ancaman, melainkan juga dapat menjadi penopang bagi sektor energi dan negara produsen. Luis Costa dari Citi menyebut situasi ini sebagai “optimisme yang bertahan”, seraya menekankan bahwa sebelum konflik terjadi, revisi naik terhadap ekspektasi laba—khususnya di pasar negara berkembang—sudah menguat dan tren tersebut disebut masih berlanjut.
Faktor lain yang turut diperhatikan adalah persediaan minyak global. Penurunan cadangan akibat gangguan pasokan menjadi perhatian, namun tidak langsung memicu kepanikan. Daan Struyven dari Goldman Sachs menilai pasar masih memiliki ruang untuk beradaptasi, meski persediaan tidak bisa terus dikuras. Ia memperkirakan Brent crude berada di sekitar US$80 per barel hingga akhir tahun, level yang dinilai masih sehat bagi keseimbangan ekonomi global.
Meski proses negosiasi belum sepenuhnya mulus, termasuk penundaan rencana kunjungan Wakil Presiden AS JD Vance ke Pakistan, perpanjangan gencatan senjata dipandang sebagai sinyal bahwa jalur diplomasi belum tertutup. Bagi pasar, kondisi ini dinilai cukup untuk menjaga stabilitas ekspektasi.
Secara keseluruhan, dinamika terbaru menunjukkan pergeseran cara pandang investor: dari defensif dan penuh kewaspadaan menjadi lebih konstruktif dalam menangkap peluang. Risiko geopolitik tetap diperhatikan, tetapi tidak lagi mendominasi arah pergerakan. Faktor seperti pertumbuhan laba, valuasi, dan likuiditas kembali menjadi pendorong utama.
Perpanjangan gencatan senjata oleh Trump, dengan demikian, tidak hanya meredakan ketegangan, tetapi juga ikut memperkuat pemulihan sentimen global. Dengan risiko ekstrem yang dinilai mereda dan perhatian kembali ke fundamental, pasar mendapat landasan yang lebih kokoh untuk melanjutkan tren positif, meski ketidakpastian belum sepenuhnya hilang.