Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Kamis, 2 April 2026. Pada pukul 09.00 WIB, IHSG tercatat di level 7.152,06, turun 32,38 poin atau 0,45% dibanding penutupan sebelumnya.
Pergerakan ini muncul setelah IHSG mencatat penguatan tajam sehari sebelumnya. Pada 1 April 2026, indeks ditutup di 7.149,25 atau naik 1,93%, didorong aksi beli pada saham-saham berkapitalisasi besar, termasuk BUMI, NCKL, dan INCO. Nilai transaksi pada sesi tersebut mencapai Rp16,44 triliun.
Di awal perdagangan hari ini, pasar terlihat mengambil jeda di tengah sikap hati-hati pelaku pasar. Data inflasi Maret 2026 yang melandai ke 3,48%—yang sebelumnya dipandang sebagai sentimen positif—justru diikuti aksi ambil untung (profit taking) pada pembukaan sesi.
Secara intraday pada sesi awal, IHSG bergerak dalam rentang 7.131,82 hingga 7.154,95. Hingga sekitar pukul 09.30 WIB, nilai transaksi awal tercatat Rp558,3 miliar dengan volume yang dinilai masih moderat.
Sejumlah sektor terpantau lebih tertekan, terutama properti dan konsumer non-siklikal yang pada perdagangan sebelumnya ikut mendorong penguatan. Sementara itu, saham-saham komoditas, termasuk nikel, disebut masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan jual.
Analis pasar modal dari Mirae Asset Sekuritas, Andi Ramadhan, menilai koreksi ini cenderung bersifat teknikal setelah kenaikan yang cukup cepat pada hari sebelumnya. Ia menyoroti level 7.100 sebagai area support yang perlu dicermati. Menurutnya, bila level tersebut mampu bertahan, IHSG masih berpeluang menguji resisten di kisaran 7.250 dalam waktu dekat.
Tim riset Stockbit juga menilai pergerakan pagi ini mencerminkan sikap wait and see karena data inflasi dinilai telah tercermin pada perdagangan kemarin. Mereka menyebut pasar kini menunggu katalis baru, baik dari dalam negeri maupun global, sembari mencatat minat investor dinilai belum surut meski terjadi koreksi.
Dari sisi strategi, sejumlah analis menyarankan akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental kuat, khususnya big caps di sektor komoditas dan perbankan, dengan tetap memperhatikan manajemen risiko. Untuk jangka pendek, level 7.100 menjadi acuan utama, sementara investor jangka panjang dapat mempertimbangkan koreksi sebagai peluang akumulasi secara bertahap.
Pelaku pasar juga menantikan faktor-faktor yang berpotensi memengaruhi IHSG dalam waktu dekat, termasuk perkembangan data makro global terkait arah suku bunga, rilis kinerja emiten, serta pergerakan rupiah dan arus modal asing.
Catatan: Data pergerakan IHSG bersifat real-time dan dapat berubah sewaktu-waktu. Artikel ini merujuk pada pembaruan per 2 April 2026.

