Memasuki kuartal kedua 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebut berada dalam fase konsolidasi yang dinilai sehat setelah reli panjang pada awal tahun. Dalam kondisi seperti ini, investor berorientasi jangka panjang kerap melihat peluang untuk melakukan akumulasi pada saham-saham berfundamental kuat, terutama ketika pasar bergerak lebih stabil.
Dalam analisis pasar modal yang disampaikan dalam laporan tersebut, sentimen global dinilai mulai membaik dan dipandang dapat mendukung prospek pertumbuhan laba emiten di Indonesia. Fokus utama pada April 2026 diarahkan pada pencarian perusahaan yang dinilai mampu bertahan dari volatilitas siklus ekonomi sekaligus berpotensi meningkatkan nilai kapitalisasi dalam horizon 3 hingga 5 tahun.
Dari sisi sektoral, perbankan masih disebut sebagai jangkar stabilitas pasar. Dengan proyeksi pertumbuhan kredit yang stabil serta inflasi domestik yang terkendali, bank-bank berkapitalisasi besar diperkirakan tetap menjadi penopang, termasuk melalui potensi pembagian dividen. Laporan tersebut juga menyoroti peningkatan kualitas aset dan efisiensi operasional emiten besar yang dinilai memberi ruang bagi perusahaan untuk mempertahankan kekuatan penetapan harga, bahkan saat suku bunga mengalami penyesuaian terbatas.
Selain perbankan, sektor infrastruktur digital dan energi terbarukan dinilai memiliki peluang mencatat kinerja lebih baik. Perusahaan yang bergerak pada hilirisasi nikel dan pengembangan energi hijau disebut memperoleh dukungan kebijakan pemerintah, yang dalam laporan itu dipandang dapat menciptakan keunggulan kompetitif. Pengalokasian portofolio ke sektor-sektor yang didorong tren makro jangka panjang disebut sebagai salah satu strategi untuk memaksimalkan imbal hasil.
Laporan tersebut juga menekankan bahwa strategi mengejar capital gain jangka panjang tidak harus mengesampingkan imbal hasil rutin. Sejumlah emiten disebut meningkatkan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio/DPR) seiring kondisi likuiditas yang kuat. Kombinasi apresiasi harga saham dan dividen dipandang dapat memperkuat efek penggandaan (compounding) dalam jangka panjang.
Untuk April 2026, laporan itu mencantumkan beberapa saham berkapitalisasi besar yang dinilai memiliki fundamental kokoh dan prospek pertumbuhan jangka panjang. Rekomendasi yang disebut meliputi BBCA dari sektor perbankan transaksional dengan alasan likuiditas tinggi, kualitas aset, dan dominasi pasar; TLKM dari sektor telekomunikasi terkait dominasi infrastruktur data serta potensi penguatan bisnis data center dan enterprise; ADRO dari sektor energi terintegrasi yang disebut memiliki posisi kas kuat, diversifikasi ke energi hijau, serta rekam jejak dividen; serta ASII dari sektor konglomerasi terdiversifikasi dengan paparan pada otomotif dan agribisnis serta fokus efisiensi.
Seluruh pilihan tersebut ditempatkan dalam kerangka target jangka panjang 3 hingga 5 tahun, sejalan dengan penekanan strategi investasi berbasis kualitas fundamental dan ketahanan bisnis di tengah volatilitas pasar.

