Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi global berisiko melambat dan inflasi berpotensi meningkat akibat ketegangan geopolitik yang mengganggu pasokan energi dunia. Peringatan itu disampaikan Direktur IMF Kristalina Georgieva pada 6 April, menjelang rilis perkiraan ekonomi global IMF pada pekan berikutnya.
Georgieva menyatakan konflik telah memicu gangguan paling serius yang pernah terjadi pada pasokan energi global. Ia menyoroti terhentinya jutaan barel produksi minyak setelah Iran memblokade Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi sekitar 20% minyak dan gas dunia.
Menurut Georgieva, eskalasi ketegangan telah mengurangi pasokan minyak global sekitar 13%. Dampaknya menjalar ke industri terkait, termasuk helium dan pupuk. IMF menilai bahwa bahkan jika konflik berakhir cepat, perlambatan pertumbuhan global dan kenaikan inflasi tetap akan terjadi. Jika konflik berlanjut, dampaknya diperkirakan lebih berat.
Selain risiko jangka pendek dari konflik, Georgieva juga menekankan bahwa ketidakstabilan geopolitik, kemajuan teknologi, perubahan iklim, dan pergeseran demografis turut membentuk lingkungan ekonomi global yang semakin menantang.
IMF menilai negara-negara termiskin dan paling rentan akan menanggung dampak terbesar, terutama negara pengimpor energi yang memiliki sedikit atau tidak memiliki cadangan fiskal maupun ruang kebijakan untuk meredam kenaikan harga. Georgieva mengatakan banyak negara telah meminta bantuan keuangan, serta membuka kemungkinan IMF memperluas program pinjaman yang ada untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Gangguan di Selat Hormuz terjadi setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang diikuti penutupan jalur tersebut oleh Iran. Situasi itu memicu kenaikan tajam harga minyak mentah dan gas alam cair, yang kemudian mendorong kenaikan harga berbagai komoditas lain.
Georgieva mengatakan IMF berkoordinasi dengan Program Pangan Dunia (WFP) dan Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) untuk memantau ketahanan pangan. Pada Maret, WFP memperingatkan jutaan orang dapat menghadapi kekurangan pangan akut jika pertempuran berlanjut hingga Juni. Meski IMF saat ini belum melihat tanda-tanda krisis pangan, lembaga itu menilai risikonya dapat meningkat jika pasokan pupuk terganggu.
Pada hari yang sama, Ketua dan CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon turut memperingatkan bahwa konflik yang sedang berlangsung antara AS, Israel, dan Iran dapat menimbulkan risiko signifikan bagi perekonomian AS. Dalam surat tahunannya kepada pemegang saham, Dimon menyoroti potensi guncangan harga minyak dan komoditas, gangguan rantai pasokan global, serta risiko inflasi yang bertahan dan suku bunga yang lebih tinggi dari ekspektasi pasar.
Dimon menempatkan konflik di Iran sebagai salah satu tantangan utama bagi ekonomi AS, bersamaan dengan isu defisit anggaran pemerintah yang tinggi dan utang publik global, kenaikan harga aset di tengah spread kredit yang rendah, serta ketegangan perdagangan.
Dampak berantai konflik juga terlihat di Eropa. Di Jerman, kepercayaan konsumen dilaporkan anjlok pada April. Indeks harga konsumen (HDE) Asosiasi Perdagangan Jerman turun menjadi 94,85 poin pada April, level terendah sejak Februari 2024. Perkembangan ini menunjukkan kekhawatiran konsumen terhadap kenaikan harga dan suku bunga, dengan kenaikan tajam harga energi disebut sebagai faktor utama.
Tekanan turut terasa di pasar keuangan, dengan indeks DAX turun lebih dari 10% pada Maret. Sejumlah lembaga riset ekonomi juga merevisi turun proyeksi pertumbuhan mereka seiring meningkatnya ketidakstabilan geopolitik.

