BERITA TERKINI
IMF Peringatkan Risiko Inflasi Naik dan Pertumbuhan Melambat di Tengah Dampak Perang Iran

IMF Peringatkan Risiko Inflasi Naik dan Pertumbuhan Melambat di Tengah Dampak Perang Iran

Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan ekonomi global tengah menghadapi risiko kenaikan inflasi dan perlambatan pertumbuhan, seiring dampak eskalasi perang Iran yang memicu guncangan pada pasokan energi dan rantai pasok. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyampaikan peringatan tersebut pada awal pekan, di saat lembaga itu bersiap memangkas proyeksi ekonomi terbarunya.

Georgieva menilai berbagai indikator mengarah pada tekanan yang lebih besar terhadap stabilitas finansial global. “Semua jalan sekarang mengarah pada harga-harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat,” ujarnya dalam wawancara yang dikutip Rabu (8/4/2026).

Sebelum perang pecah, IMF sempat mengantisipasi kenaikan kecil prospek pertumbuhan global, yakni 3,3% pada 2026 dan 3,2% pada 2027. Namun menurut Georgieva, ekspektasi itu berubah setelah konflik Iran mengirim gelombang kejutan ke perekonomian dunia.

IMF menilai guncangan tersebut tidak mudah mereda dalam waktu dekat, bahkan bila perang berakhir cepat. Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran enam minggu lalu disebut memicu gangguan besar pada pasokan energi setelah Selat Hormuz—koridor pengiriman penting—mengalami penutupan efektif.

Penutupan itu sempat menghentikan total lalu lintas laut di Teluk. Meski pengiriman perlahan kembali berjalan, aktivitasnya masih jauh dari kondisi normal. Pada hari Senin dilaporkan delapan kapal tanker melintas, sementara data S&P Global Market Intelligence menunjukkan rata-rata transit pada Maret kurang dari dua per hari.

Volume lalu lintas tetap berada di bawah tingkat sebelum perang. Pada 2025, rata-rata 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak melintasi jalur tersebut per hari. IMF mencatat pasokan minyak global telah berkurang 13%, disertai kerusakan berat pada rantai pasok kritis lain.

Georgieva memperingatkan negara-negara miskin yang tidak memiliki cadangan devisa memadai berisiko menjadi pihak yang paling terdampak. Ia juga menekankan ketegangan geopolitik memperbesar ketidakpastian yang sudah lebih dulu membayangi pasar global.

“Kita berada di dunia dengan ketidakpastian yang meningkat. Semua ini berarti setelah kita pulih dari guncangan ini, kita perlu tetap membuka mata untuk guncangan berikutnya,” kata Georgieva, merujuk pada ketegangan geopolitik, kemajuan teknologi, guncangan iklim, dan pergeseran demografi.

Kombinasi harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat memunculkan kekhawatiran kembalinya stagflasi di kalangan konsumen, pelaku usaha, dan pembuat kebijakan. Perang Iran diperkirakan akan menjadi topik utama dalam pertemuan musim semi Bank Dunia dan IMF pekan depan, ketika Georgieva dijadwalkan menyampaikan pidato pada Kamis.

Di sisi lain, Kepala Ekonom Moody’s Analytics Mark Zandi menyebut arah ekonomi global mengarah pada stagflasi. Ia menilai kebijakan yang diambil selama konflik turut memperburuk kondisi ekonomi internasional. “Secara arah, ini adalah stagflasi. Ini adalah inflasi yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah yang merupakan hasil dari kebijakan, baik kebijakan tarif maupun kebijakan imigrasi,” ujar Zandi.