BERITA TERKINI
Infantino Wacanakan Kembalinya Rusia ke Turnamen Internasional, Ukraina Menolak Keras

Infantino Wacanakan Kembalinya Rusia ke Turnamen Internasional, Ukraina Menolak Keras

Presiden FIFA Gianni Infantino kembali melontarkan wacana sensitif terkait kemungkinan Rusia kembali mengikuti turnamen sepak bola internasional. Dalam wawancara dengan Sky, Infantino mengatakan larangan terhadap Rusia perlu dipertimbangkan ulang karena dinilai tidak menghasilkan dampak yang diharapkan.

“Kita harus mempertimbangkan kembalinya Rusia, tentu saja, karena larangan ini tidak membuahkan apa pun. Larangan justru hanya menciptakan lebih banyak frustrasi dan kebencian,” kata Infantino. Ia menambahkan bahwa memberi kesempatan bagi anak muda Rusia untuk bermain sepak bola di Eropa “akan membantu.”

Rusia dilarang berpartisipasi dalam ajang sepak bola internasional sejak menginvasi Ukraina pada Februari 2022. Akibatnya, Rusia dikeluarkan dari Piala Dunia 2022 di Qatar dan tidak ambil bagian dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Sejak larangan tersebut diberlakukan, tim nasional putra Rusia hanya menjalani pertandingan persahabatan. Turnamen kompetitif terakhir yang diikuti Rusia adalah Piala Dunia 2018, yang mereka selenggarakan sendiri dan berakhir dengan capaian hingga perempat final.

Di tingkat Eropa, UEFA sempat merencanakan pada 2023 untuk mengizinkan tim U-17 Rusia kembali bertanding dengan alasan tidak ingin menghukum talenta muda atas keputusan pemerintah. Namun rencana itu tidak berlanjut setelah mendapat tekanan dari belasan federasi nasional.

Komite Eksekutif UEFA dijadwalkan menggelar pertemuan pada 11 Februari. Komite ini memiliki kewenangan untuk mengembalikan Rusia ke kompetisi klub dan internasional. Presiden UEFA Aleksander Ceferin sebelumnya menyatakan bahwa agar Rusia dapat kembali ke ajang kompetisi sepak bola, invasi ke Ukraina harus diakhiri.

Di sisi lain, Ukraina menyampaikan penolakan keras terhadap pernyataan Infantino. Menteri Olahraga Ukraina Matvii Bidnyi mengatakan kepada Sky News bahwa pernyataan tersebut terdengar “tidak bertanggung jawab” dan bahkan “kekanak-kanakan,” karena dinilai memisahkan sepak bola dari realitas perang.

“Perang adalah kejahatan, bukan politik,” ujar Bidnyi. Ia menilai Rusia telah mempolitisasi olahraga dan menggunakannya untuk membenarkan agresi. Bidnyi menegaskan posisinya sejalan dengan Asosiasi Sepak Bola Ukraina yang mengecam wacana kembalinya Rusia ke kompetisi internasional.

“Selama Rusia terus membunuh warga Ukraina dan mempolitisasi olahraga, bendera serta simbol nasional mereka tidak memiliki tempat di antara mereka yang menghormati nilai-nilai seperti keadilan, integritas, dan fair play,” katanya.

Sehari setelah pernyataan Infantino, pejabat Ukraina menyebut Rusia kembali melancarkan serangan ke Kyiv, mengakhiri gencatan senjata musim dingin yang diumumkan Presiden AS Donald Trump. Otoritas Ukraina melaporkan adanya korban luka, serangan terhadap infrastruktur energi, serta pemadaman pemanas darurat.

Sementara itu, dalam konteks olahraga internasional di luar sepak bola, atlet Rusia dan Belarus tidak sepenuhnya dilarang tampil, tetapi hanya dapat berkompetisi dengan status Atlet Netral Individu. Status khusus ini dibuat Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk negara yang komite olimpiadenya dibekukan atau dilarang.

Namun, status netral tersebut tidak berlaku otomatis bagi semua atlet. IOC menerapkan syarat ketat untuk memastikan atlet tidak memiliki keterkaitan dengan tindakan politik atau militer Rusia. Situasi juga disebut makin rumit pada 2023 ketika Komite Olimpiade Rusia mengambil alih badan olahraga di wilayah Ukraina yang diduduki Rusia, yang menurut IOC melanggar sistem Olimpiade.

Dalam Olimpiade Musim Dingin Milan–Cortina, disebutkan 13 atlet Rusia akan berkompetisi sebagai atlet netral bersama tujuh atlet dari Belarus. Jumlah ini lebih sedikit dibanding dua Olimpiade sebelumnya. Pada Olimpiade 2018, lebih dari 160 atlet Rusia tampil di bawah bendera netral “Olympic Athletes from Russia” (OAR) akibat skandal doping yang disponsori negara dan meraih 17 medali. Empat tahun kemudian di Beijing, lebih dari 200 atlet Rusia tampil di bawah “Russian Olympic Committee” dan meraih 32 medali, sebelum invasi ke Ukraina terjadi empat hari setelah Olimpiade berakhir.

Di IOC, peluang kembalinya Rusia juga dinilai belum tertutup sepenuhnya. Presiden IOC Kirsty Coventry, dalam pernyataannya pada KTT IOC menjelang Olimpiade Musim Dingin di Milan pada 6–22 Februari, menekankan pentingnya menjaga olahraga sebagai ruang netral.

“Kami memahami politik dan menyadari bahwa kami tidak beroperasi dalam ruang hampa. Namun permainan kami adalah olahraga. Itu berarti menjaga olahraga sebagai ruang netral, tempat setiap atlet dapat bertanding tanpa dibatasi oleh politik atau perpecahan pemerintah mereka,” kata Coventry. Pernyataan itu tidak menyebut Rusia secara eksplisit, tetapi bagi banyak pihak dipandang sebagai sinyal bahwa pintu menuju kemungkinan kembalinya Rusia pada Olimpiade Musim Panas 2028 di Los Angeles belum tertutup rapat.