BERITA TERKINI
Kabar Dunia Sepekan: Satir Warganet Malaysia soal Minyak, Ketegangan Greenland, hingga Langkah AS di Venezuela dan Iran

Kabar Dunia Sepekan: Satir Warganet Malaysia soal Minyak, Ketegangan Greenland, hingga Langkah AS di Venezuela dan Iran

Sejumlah berita internasional menjadi perhatian pembaca sepanjang sepekan terakhir. Dari Asia Tenggara, warganet Malaysia ramai menanggapi unggahan Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Kuala Lumpur. Sementara itu, isu geopolitik mengemuka lewat meningkatnya ketegangan terkait Greenland, perkembangan terbaru di Venezuela menyusul langkah AS menjual minyak mentah negara itu, serta situasi protes di Iran yang dilaporkan mulai mereda.

Berikut rangkuman kabar internasional terpopuler edisi Senin (12/1/2026) hingga Minggu (18/1/2026).

Satir warganet Malaysia: “Tak ada minyak di sini”
Unggahan foto satelit Malaysia dari luar angkasa yang dibagikan Kedutaan Besar AS di Kuala Lumpur mendadak viral. Alih-alih sekadar memancing decak kagum, unggahan itu memicu gelombang candaan bernada satir. Sejumlah warganet menekankan bahwa Malaysia tidak memiliki minyak, seolah ingin “mengalihkan perhatian” AS. Respons tersebut dikaitkan dengan kekhawatiran agar negaranya tidak bernasib seperti Venezuela.

Opini: “Berkah” sumber daya bisa menjadi kutukan
Selain berita, salah satu artikel opini yang banyak dibaca menyoroti Venezuela sebagai contoh bagaimana kekayaan sumber daya alam dapat berubah menjadi beban. Tulisan itu juga mengaitkan situasi tersebut sebagai pelajaran mahal bagi Indonesia, dengan menarik amatan ke masa lalu saat Indonesia dan negara-negara terdampak krisis moneter berada dalam tekanan besar terhadap masa depan ekonomi mereka.

Tentara Eropa dijadwalkan tiba di Greenland
Di kawasan Arktik, personel militer dari sejumlah negara Eropa dijadwalkan mulai tiba di Greenland pada Kamis (15/1/2026). Langkah ini terjadi setelah pertemuan pejabat AS, Denmark, dan Greenland di Washington dilaporkan gagal menyelesaikan perbedaan mendasar terkait pulau kaya mineral tersebut. Ketegangan meningkat seiring Presiden AS Donald Trump berulang kali menyatakan keinginannya mengambil alih Greenland, dengan alasan wilayah otonom Denmark itu penting bagi keamanan AS.

AS mulai menjual minyak mentah Venezuela
AS secara resmi memulai penjualan minyak mentah Venezuela setelah menyelesaikan transaksi pertama senilai 500 juta dollar AS (Rp 8,4 triliun). Seorang pejabat pemerintahan AS menyebut penjualan perdana telah rampung dan menjadi langkah awal dari rencana pemanfaatan cadangan minyak Venezuela. Penjualan minyak tambahan diperkirakan berlangsung dalam beberapa hari hingga pekan berikutnya.

Protes di Iran dilaporkan mulai mereda
Dari Iran, gelombang protes nasional dilaporkan mulai mereda pada Kamis (15/1/2026) setelah aparat keamanan melakukan penindakan keras yang disebut menewaskan ribuan orang dan memenjarakan puluhan ribu lainnya. Di Teheran, warga menyebut situasi jalanan relatif lebih tenang, suara tembakan semakin jarang terdengar, dan titik-titik kebakaran telah padam dibandingkan pekan-pekan sebelumnya.

Trump kesal Exxon tak berminat berinvestasi di Venezuela
Di AS, Donald Trump mengaku kesal terhadap ExxonMobil setelah CEO perusahaan itu menyebut Venezuela sebagai negara yang tidak layak untuk investasi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan di Gedung Putih yang mempertemukan Trump dengan para petinggi industri minyak dunia. Trump menilai sikap Exxon bertolak belakang dengan rencananya menghidupkan kembali industri minyak Venezuela.

Pernyataan Trump soal hukum internasional
Dalam perkembangan lain, Trump juga menyatakan tidak membutuhkan hukum internasional atau batasan lain untuk menyerang, menginvasi, dan memaksa negara-negara di seluruh dunia. Ia mengatakan satu-satunya batasan yang mengendalikan kekuasaannya adalah moralitasnya sendiri. “Ya, ada satu hal. Moralitas saya sendiri. Pikiran saya sendiri. Hanya itu yang bisa menghentikan saya,” ujarnya, dikutip dari New York Times, Kamis (8/1/2026). Ia menambahkan, “Saya tidak butuh hukum internasional. Saya tidak berniat menyakiti orang lain.”