Kanselir Jerman Friedrich Merz melontarkan pernyataan yang menuai perhatian terkait prospek perdamaian antara Rusia dan Ukraina. Merz mengatakan Ukraina pada akhirnya mungkin harus menerima kenyataan bahwa sebagian wilayahnya tidak lagi berada di bawah kendali Kiev sebagai bagian dari kesepakatan damai dengan Moskow.
“Pada suatu titik, mereka akan menandatangani gencatan senjata; pada suatu titik, semoga, perjanjian damai dengan Rusia. Lalu bisa jadi sebagian wilayah mereka tidak lagi menjadi bagian Ukraina,” kata Merz.
Merz mengaitkan kemungkinan konsesi wilayah tersebut dengan peluang Ukraina untuk bergabung dengan Uni Eropa. Ukraina saat ini berstatus kandidat resmi, namun proses aksesi dinilai masih panjang dan bergantung pada pemenuhan berbagai persyaratan.
Menurut Merz, jika Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy ingin menyampaikan opsi itu kepada publik dan mendapatkan dukungan mayoritas—termasuk jika diperlukan referendum—maka ia juga harus menekankan manfaat strategis yang bisa diperoleh, terutama akses ke Eropa. “Jika Volodymyr Zelenskiy ingin menyampaikan ini kepada rakyatnya dan mendapatkan dukungan mayoritas, serta perlu mengadakan referendum, maka ia harus sekaligus mengatakan: ‘Saya telah membuka jalan ke Eropa’,” ujar Merz.
Meski demikian, Merz memperingatkan agar tidak muncul ekspektasi berlebihan terkait percepatan keanggotaan Ukraina di Uni Eropa. Ia menegaskan Ukraina tidak dapat bergabung selama masih dalam kondisi perang dan tetap harus memenuhi kriteria seperti supremasi hukum serta pemberantasan korupsi.
Merz juga menilai target bergabung pada 1 Januari 2027 tidak realistis. “Zelenskiy punya ide bergabung pada 1 Januari 2027. Itu tidak akan berhasil. Bahkan tahun depannya pun tidak realistis,” katanya.
Sebagai langkah sementara, Merz mengusulkan pemberian peran pengamat bagi Ukraina di Uni Eropa. Ia menyebut gagasan tersebut mendapat dukungan luas dari para pemimpin kawasan euro dalam pertemuan tingkat tinggi pekan lalu di Siprus.
Sementara itu, perang Rusia-Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan masih ada permusuhan besar antara Zelenskiy dan Presiden Rusia Vladimir Putin, yang menurutnya menyulitkan terwujudnya perdamaian.
Trump menyebut dirinya baru-baru ini melakukan percakapan yang baik dengan kedua pemimpin dalam upaya mendorong penyelesaian konflik. “Kami sedang mengerjakan situasi Rusia dan Ukraina. Mudah-mudahan kami akan berhasil,” kata Trump.
Trump tidak merinci kapan terakhir kali ia berbicara dengan Putin dan Zelenskiy, tetapi menegaskan komunikasi tersebut berjalan positif. “Saya memang berbicara dengan dia (Putin) dan saya juga berbicara dengan Zelenskiy. Itu percakapan yang baik,” ujarnya.
Ia juga menyoroti ketegangan personal di antara kedua pemimpin sebagai salah satu tantangan dalam negosiasi. “Kebencian antara kedua presiden itu tidak masuk akal. Itu gila. Kebencian adalah hal buruk ketika kita mencoba menyelesaikan sesuatu,” kata Trump.