Pasar komoditas global bergerak berlawanan arah pada penutupan perdagangan 12 Februari 2026. Sektor pertanian menguat, sementara sektor logam melemah, dipengaruhi kombinasi sentimen perdagangan, risiko pasokan, dan perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Harga kedelai berjangka naik hampir 1,2% menjadi US$417,9 per ton. Penguatan ini dikaitkan dengan optimisme pasar atas prospek perpanjangan perjanjian perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, menjelang pertemuan puncak di Beijing pada April yang diperkirakan membahas komitmen pembelian produk pertanian dalam skala besar.
Tepung kedelai turut menguat 1,6% menjadi US$339,4 per ton. Pasar menilai potensi pembelian hingga 20 juta ton kedelai untuk tahun panen 2025–2026 dapat membantu menyeimbangkan neraca pasokan dan permintaan di AS yang sebelumnya tertekan oleh kelebihan pasokan.
Dari sisi permintaan, data Departemen Pertanian AS (USDA) menunjukkan penjualan 108.000 ton kedelai tahun 2025–2026 ke Mesir. Pelaku pasar juga menunggu laporan penjualan ekspor mingguan USDA, dengan perkiraan penjualan berada di kisaran 300.000 hingga 1,1 juta ton.
Selain faktor permintaan, kekhawatiran pasokan ikut menopang harga. Di Argentina, risiko gangguan rantai pasokan meningkat akibat pemogokan yang memprotes reformasi hukum ketenagakerjaan, termasuk potensi penutupan pelabuhan penting seperti San Lorenzo. Kondisi ini dapat mendorong importir mengalihkan pesanan ke AS untuk menutup kemungkinan kekurangan tepung kedelai.
Risiko cuaca juga menjadi perhatian. Hujan lebat berkepanjangan di Mato Grosso, Brasil, menghambat panen dan memengaruhi kualitas produk. Sementara di AS, sekitar 37% wilayah penghasil kedelai utama masih dilanda kekeringan, menambah ketidakpastian terhadap hasil panen berikutnya.
Berbeda dengan pertanian, sektor logam tertekan. Indeks MXV turun 2,6% ke 2.475 poin. Platinum mencatat penurunan terdalam, anjlok hampir 5,8% menjadi US$2.021,7 per ons, yang merupakan level terendah sejak Desember 2025.
Tekanan pada platinum muncul seiring menyempitnya ekspektasi investor terhadap peluang pelonggaran moneter Federal Reserve (The Fed). Sentimen tersebut menguat setelah laporan pasar tenaga kerja Januari menunjukkan penciptaan 130.000 lapangan kerja non-pertanian dan tingkat pengangguran turun menjadi 4,3% dari 4,4%.
Meski data tersebut belum dipandang sebagai konfirmasi pemulihan jangka panjang, investor cenderung lebih berhati-hati menjelang rilis indeks harga konsumen (CPI). Jika inflasi tetap meningkat di tengah pasar tenaga kerja yang stabil, dorongan The Fed untuk menurunkan suku bunga dinilai melemah, yang berpotensi memperkuat dolar AS dan membuat komoditas berdenominasi dolar—termasuk platinum—menjadi lebih mahal.
Indeks Dolar (DXY) naik untuk hari kedua berturut-turut ke 96,92 poin. Tekanan tambahan datang dari berkurangnya minat spekulatif. Data CFTC menunjukkan kelompok Managed Money terus mengurangi posisi net long pada kontrak berjangka platinum di NYMEX, turun hingga 82% dibandingkan awal 2026.
Di tengah pelemahan, sisi penawaran memberikan penyangga terbatas. Produksi platinum global dinilai berisiko menurun karena penambang membatasi ekspansi tambang baru akibat kenaikan biaya. Hambatan infrastruktur di Afrika Selatan—pemasok utama—juga masih mengganggu kapasitas ekspor. Sejumlah analis memperkirakan pasokan yang ketat dapat mendukung pemulihan teknis harga platinum pada sesi mendatang, meski tekanan dari dolar AS tetap membayangi.
Pergerakan kontras di pasar komoditas ini berimplikasi luas terhadap biaya produksi dan rantai pasokan, yang pada akhirnya dapat memengaruhi harga konsumen. Di tingkat pelaku usaha, dinamika harga global disebut turut mendorong sebagian bisnis pakan ternak di Vietnam menunda transaksi besar menjelang Tahun Baru Imlek 2026 sambil memantau arah pasar.

