Perdana Menteri Hongaria Viktor Orban menunda persetujuan paket bantuan Uni Eropa (UE) senilai 90 miliar euro untuk Ukraina di tengah sengketa terkait penghentian aliran minyak melalui pipa Druzhba yang melintasi wilayah Ukraina. Dana tersebut disebut sangat dibutuhkan Kyiv untuk menopang kelangsungan hidup serta pembiayaan pertahanan militernya.
Orban menyatakan penundaan itu sebagai bentuk protes atas terhentinya pasokan minyak melalui pipa Druzhba. Hongaria, bersama Slovakia, menuduh Ukraina sengaja memutus aliran minyak mentah dari Rusia dengan alasan kerusakan akibat serangan udara Moskow.
Orban juga mengklaim memiliki bukti satelit yang menurutnya menunjukkan pipa tersebut tidak mengalami kerusakan separah yang dilaporkan pihak Ukraina. Namun, isu ini belum menemukan titik temu, sementara UE disebut kesulitan mencari solusi, termasuk terkait persoalan transparansi mengenai kondisi pipa.
Di Ukraina, Presiden Volodymyr Zelenskiy mengkritik langkah Orban yang memblokir dana tersebut. Dalam wawancara dengan Financial Times pada Senin (2/3/2026), Zelenskiy menilai bantuan kemanusiaan dan militer tidak semestinya dijadikan alat politik.
"Sekarang Anda memblokir 90 miliar Euro... uang yang kami butuhkan untuk persenjataan, untuk kelangsungan hidup kami," kata Zelenskiy.
Ketegangan ini turut diwarnai dinamika politik domestik Hongaria. Menjelang pemilihan umum yang diperkirakan berlangsung sengit, Orban dituding memanfaatkan isu tersebut untuk menguatkan dukungan melalui sentimen anti-Ukraina.
Di tingkat UE, sejumlah diplomat senior menilai langkah Ukraina terkait pipa Druzhba telah memberi ruang bagi Hongaria untuk menahan persetujuan paket bantuan itu. Situasi ini membuat blok tersebut berada dalam posisi sulit saat upaya menjaga dukungan bagi Ukraina kembali diuji oleh perbedaan kepentingan di antara negara anggota.

