BERITA TERKINI
KTT Trump-Xi Berpotensi Diundur, AS Tegaskan Hubungan Dagang dengan China Tetap Stabil

KTT Trump-Xi Berpotensi Diundur, AS Tegaskan Hubungan Dagang dengan China Tetap Stabil

Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent menegaskan bahwa hubungan AS dengan China tetap stabil, meski jadwal kunjungan Presiden Donald Trump ke Beijing berpotensi diundur. Menurut Bessent, sengketa perdagangan maupun isu pelayaran dengan China tidak menjadi alasan penundaan tersebut.

Pernyataan itu disampaikan pada Senin (17/3/2026), setelah Bessent bersama Wakil Perdana Menteri China He Lifeng dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer menyelesaikan dua hari perundingan di Paris. Rangkaian pembicaraan itu disebut membuka peluang kesepakatan yang dapat menjadi landasan bagi KTT Trump dengan Presiden China Xi Jinping yang sebelumnya diharapkan berlangsung pada awal April.

Namun, Trump menyatakan sedang mempertimbangkan untuk menunda perjalanan tersebut sekitar satu bulan karena perang AS di Iran. Sebelumnya, Trump juga meminta China dan negara lain membantu kapal-kapal agar dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman, setelah Iran menutup jalur pengiriman minyak yang vital tersebut.

Bessent mengatakan penundaan, jika terjadi, kemungkinan terkait kebutuhan Trump untuk tetap berada di Washington dalam kapasitasnya sebagai panglima tertinggi militer AS. Ia menegaskan hal itu tidak berkaitan dengan apakah China memenuhi permintaan AS terkait Selat Hormuz.

“Ini tidak ada hubungannya dengan China yang membuat komitmen di Selat Hormuz. Tentu akan menguntungkan mereka untuk melakukannya, tapi penundaan ini bukan karena permintaan presiden tidak dipenuhi,” ujar Bessent kepada wartawan.

Ia menilai perundingan di Paris berlangsung konstruktif dan mencerminkan stabilitas hubungan kedua negara. Dalam unggahan di media sosial X, Bessent juga menyebut AS dan China “sedang berada di jalur yang baik menuju pertemuan berikutnya” antara Trump dan Xi.

Dari pihak China, negosiator perdagangan utama Li Chenggang menggambarkan pertemuan di kantor OECD, Paris, sebagai “konsultasi mendalam, jujur, dan konstruktif”, dengan komitmen kedua pihak untuk menjaga stabilitas tarif bilateral. Sementara itu, Greer menyatakan kedua negara menyepakati kerangka umum “rencana kerja” yang akan menjadi dasar kesepakatan saat Trump dan Xi bertemu.

Jika jadwal KTT diundur, tambahan waktu tersebut dinilai dapat dipakai untuk menyempurnakan proposal. Dalam pembahasan, proposal disebut mencakup ekspansi ekspor AS untuk produk pertanian dan energi, serta pembentukan mekanisme formal untuk mengelola hubungan dagang. Mekanisme itu disebut mungkin dinamai Dewan Perdagangan AS-China (U.S.-China Board of Trade), yang ditujukan untuk membantu menentukan komoditas apa yang sebaiknya diimpor dari China dan diekspor ke China agar kedua negara dapat fokus pada area yang saling menguntungkan.

Selain itu, terdapat pula versi awal “Dewan Investasi” untuk menangani isu investasi. Li menyampaikan bahwa China juga mengemukakan keprihatinan serius terkait investigasi praktik perdagangan tidak adil AS berdasarkan Section 301. Investigasi tersebut menarget China dan sejumlah mitra dagang lain terkait kapasitas industri berlebih serta produk yang dibuat dengan tenaga kerja paksa.

Investigasi itu berpotensi memicu tarif baru dalam beberapa bulan mendatang, setelah Mahkamah Agung AS pada akhir Februari membatalkan tarif global luas yang diterapkan Trump melalui undang-undang darurat. “Kami akan mengikuti perkembangan investigasi ini dengan cermat, dan mengambil langkah-langkah yang relevan untuk melindungi hak dan kepentingan sah China pada waktu yang tepat,” kata Li.

Perundingan di Paris merupakan kelanjutan dari sejumlah pertemuan tahun lalu antara He, Bessent, Greer, dan Li yang bertujuan meredakan ketegangan. Namun, analis menilai peluang terobosan besar tetap terbatas mengingat waktu persiapan yang sempit dan perhatian Washington yang tersita oleh perang AS-Israel di Iran.

Josh Lipsky, ketua ekonomi internasional di Atlantic Council, menilai isu Iran kemungkinan menjadi fokus utama pertemuan Trump-Xi jika berlangsung dalam waktu dekat. Menurutnya, penundaan hingga akhir April dapat mengurangi dominasi isu tersebut sekaligus memberi waktu tambahan untuk menyusun agenda.

“Saya pikir ini sinyal bahwa kedua pihak berharap dengan memindahkan pertemuan ke akhir April, mereka akan memiliki pertemuan seperti yang selalu mereka rencanakan, bukan pertemuan yang didominasi isu Iran. Penundaan ini juga memberi mereka waktu lebih untuk menyusun agenda,” ujar Lipsky.