Novel kerap dipahami bukan hanya sebagai kisah fiksi tentang tokoh-tokohnya, melainkan juga sebagai ruang untuk melihat cara pandang penulis terhadap berbagai persoalan. Benang merah pemikiran penulis biasanya baru terasa ketika pembaca menelusuri lebih dari satu karya, karena dari sana terlihat kecenderungan tema, pilihan detail, hingga fokus penceritaan yang berulang.
Dalam pembacaan yang membandingkan dua karya S. Mara Gd—Misteri Dian yang Padam sebagai novel perdana dan Misteri Terakhir sebagai novel pamungkas—terlihat sejumlah perbedaan mencolok, sekaligus satu kesamaan yang menonjol. Perbandingan ini berfokus pada ketebalan buku, penggambaran latar tokoh detektif, preferensi religi yang dimunculkan dalam cerita, serta setting lokasi.
Perbedaan pertama tampak pada ketebalan halaman. Misteri Dian yang Padam memiliki 248 halaman. Sementara itu, Misteri Terakhir berjumlah total 1.345 halaman yang terbagi dalam tiga buku: 447 halaman pada buku kesatu, 475 halaman pada buku kedua, dan 423 halaman pada buku ketiga. Dalam pembacaan ini, ketebalan novel pamungkas dipahami sebagai upaya penulis memberikan persembahan terbaik sebelum berpamitan kepada pembaca, sekaligus memasukkan nilai-nilai kehidupan yang diyakininya. Adapun pada karya perdana, penulis dinilai lebih berfokus pada jalan cerita sehingga novel selesai dalam 248 halaman.
Perbedaan kedua terdapat pada latar belakang tokoh detektif. Dalam novel perdana, latar tokoh detektif digambarkan masih samar. Keluarga Kapten Kosasih hanya disebut sekilas, sementara Gozali disebut sebagai mantan narapidana tanpa penjelasan detail bagaimana ia kemudian berpasangan dengan Kapten Kosasih dalam memecahkan berbagai misteri. Pada fase ini juga tidak disebut adanya hubungan Gozali dengan anak Kosasih.
Berbeda dengan itu, pada novel pamungkas, keluarga Kapten Kosasih digambarkan lebih lengkap beserta karakter masing-masing. Dari empat anak Kosasih, tiga di antaranya memiliki peran dalam cerita. Hubungan Gozali dan Dessy juga digambarkan sudah berada pada tahap serius, meski Gozali masih kerap merasa rendah diri—sebuah kontras dengan sikapnya ketika menangani kasus pembunuhan, saat kepercayaan dirinya digambarkan sangat tinggi.
Perbedaan ketiga menyangkut preferensi religi penulis dalam penceritaan. Dalam novel perdana, tidak ada pengisahan mengenai iman atau kepercayaan para tokohnya. Sebaliknya, dalam novel pamungkas, S. Mara Gd memasukkan informasi yang lebih rinci tentang Kristen Advent melalui tokoh Bambang, anak sulung Kosasih, sebagai pintu masuk narasi.
Sementara itu, persamaan kedua novel terlihat pada setting lokasi. Keduanya sama-sama mengambil latar Surabaya. Kota ini disebut sebagai tempat penulis bermukim, sehingga penggambaran lokasi dinilai tidak mengalami kesulitan.
Perbandingan dua karya di dua ujung perjalanan kepenulisan ini memperlihatkan perubahan fokus dan keluasan detail, dari novel perdana yang lebih ringkas dan menitikberatkan pada alur, hingga novel pamungkas yang jauh lebih tebal dengan pengembangan latar tokoh serta muatan nilai yang lebih eksplisit. Namun, keduanya tetap bertemu pada Surabaya sebagai ruang cerita yang konsisten.