Jakarta (07/04) — Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Nevi Zuairina, menilai konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran memberi dampak serius terhadap industri plastik nasional. Ia menyoroti tingginya ketergantungan Indonesia pada impor bahan baku plastik yang membuat sektor tersebut rentan terhadap gejolak global.
Nevi menyebut Indonesia hingga kini belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku plastik secara mandiri, terutama untuk komponen penting seperti resin dan nafta. Keterbatasan kapasitas industri petrokimia dalam negeri membuat sebagian besar kebutuhan masih dipenuhi melalui impor, khususnya dari kawasan Timur Tengah.
“Ketika kawasan Timur Tengah mengalami konflik, pasokan nafta langsung terganggu. Padahal sekitar 60 hingga 70 persen bahan baku plastik Indonesia berasal dari wilayah tersebut. Akibatnya, harga resin dan produk plastik melonjak tajam, bahkan mencapai kenaikan hingga 30 sampai 50 persen, dan untuk jenis tertentu bisa menyentuh 70 persen,” ujar Nevi.
Ia menambahkan, kenaikan harga bahan baku mulai menekan industri hilir seperti kemasan, makanan dan minuman, serta otomotif. Menurutnya, kenaikan biaya produksi tidak hanya menggerus margin pelaku usaha, tetapi juga berpotensi mendorong kenaikan harga barang konsumsi.
Nevi juga memandang situasi ini sebagai momentum transformasi industri. Ia mendorong pemerintah mengurangi ketergantungan pada plastik berbasis fosil dan beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan, termasuk optimalisasi penggunaan bahan daur ulang.
Untuk jangka pendek, Nevi meminta pemerintah melalui Kementerian Perdagangan segera mencari sumber bahan baku alternatif dari negara lain, seperti kawasan Afrika dan India, agar rantai pasok tetap terjaga.
Dalam jangka panjang, ia menekankan perlunya penguatan industri petrokimia nasional. Pembangunan kilang dan pabrik resin di dalam negeri dinilai menjadi kunci untuk menciptakan kemandirian industri.
Selain itu, Nevi mendorong kebijakan stabilisasi harga melalui insentif fiskal, subsidi terbatas, serta penyesuaian bea impor bahan baku. “Jangan sampai kita mengulang kesalahan seperti yang terjadi pada industri tekstil. Negara harus hadir menyelamatkan industri plastik nasional sebelum dampaknya semakin luas,” katanya.

