BERITA TERKINI
Pakar Ingatkan Pemula Agar Mulai Lari Secara Bertahap Demi Cegah Cedera

Pakar Ingatkan Pemula Agar Mulai Lari Secara Bertahap Demi Cegah Cedera

Tren olahraga lari kian diminati masyarakat, terutama menjelang pergantian tahun dan momentum penyusunan resolusi hidup sehat 2026. Namun, semangat memulai kebiasaan baru ini perlu dibarengi pemahaman yang tepat agar aktivitas lari tidak berujung cedera.

Hal tersebut disampaikan dr. Muhammad Ariffudin, Sp.OT, dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sekaligus dokter spesialis ortopedi, dalam wawancara di ruang sidang FKIK UMY, Rabu (7/1).

Menurut dr. Ariffudin, hal paling mendasar bagi pemula yang ingin mulai berlari bukanlah perlengkapan olahraga yang mahal, melainkan perencanaan yang realistis dan komitmen untuk menjalaninya secara konsisten. Ia menilai banyak resolusi olahraga gagal karena sejak awal dipatok dengan target yang terlalu tinggi dan sulit dicapai.

“Yang paling penting itu bukan sepatu merek apa, tetapi bagaimana kita membuat rencana yang masuk akal dan bisa ditepati. Jangan langsung memasang target turun lima kilogram dalam sebulan, karena itu justru bisa menimbulkan stres dan rasa kecewa,” ujarnya.

Ia menyarankan pemula menerapkan prinsip start low, go slow, yakni memulai latihan dari intensitas ringan dan meningkatkannya secara bertahap. Fokus utama, kata dia, seharusnya bukan pada hasil instan, melainkan membangun kebiasaan olahraga yang rutin dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, dr. Ariffudin menegaskan bahwa olahraga lari perlu dilakukan melalui tahapan yang benar. Ia menyoroti anggapan keliru bahwa aktivitas apa pun yang membuat tubuh berkeringat sudah bisa disebut olahraga.

“Olahraga itu ada tahapannya. Dimulai dari stretching untuk menyiapkan otot dan sendi, dilanjutkan pemanasan untuk mempersiapkan jantung, kemudian masuk ke inti olahraga. Setelah selesai, jangan lupa melakukan pendinginan,” jelasnya.

Kesalahan lain yang kerap ditemui pada pelari pemula adalah kecenderungan berolahraga berlebihan atau overtraining. Banyak pemula memaksakan diri dari sisi jarak maupun frekuensi latihan tanpa memberi waktu adaptasi bagi tubuh, sehingga meningkatkan risiko cedera otot dan sendi.

“Baru sekali lari lima kilometer, besoknya langsung ingin 20 atau 25 kilometer. Itu bukan membangun kesehatan, justru merusak tubuh. Olahraga harus dilakukan secara bertahap,” tegasnya.

Ia menekankan tujuan utama olahraga adalah menjaga kesehatan, bukan mengejar prestasi. Karena itu, baik mahasiswa maupun pekerja diimbau mengutamakan keamanan dan konsistensi latihan, bukan sekadar mengikuti tren.