BERITA TERKINI
Partai Progressive Bulgaria Pimpin Perolehan Suara dalam Pemilu Parlemen

Partai Progressive Bulgaria Pimpin Perolehan Suara dalam Pemilu Parlemen

Partai Progressive Bulgaria yang dipimpin mantan Presiden Bulgaria Rumen Radev diperkirakan menjadi pemenang pemilu parlemen Bulgaria. Hasil resmi sementara menunjukkan partai tersebut meraih 44,7% suara setelah 91,7% surat suara dihitung.

Dengan capaian itu, Progressive Bulgaria diproyeksikan mengamankan sekitar 130 dari total 240 kursi parlemen. Perolehan ini melampaui ekspektasi dan disebut menjadi salah satu capaian kursi terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Progressive Bulgaria unggul jauh atas koalisi pro-Eropa We Continue the Change–Democratic Bulgaria (PP-DB) serta partai kanan-tengah lama Citizens for European Development of Bulgaria (GERB) yang dipimpin mantan Perdana Menteri Boyko Borissov.

Pemilu cepat ini digelar setelah pemerintah sebelumnya mundur di tengah gelombang protes antikorupsi nasional pada Desember lalu. Sejak 2021, Bulgaria—negara anggota Uni Eropa termiskin—terus menghadapi krisis politik, terutama setelah jatuhnya pemerintahan konservatif Boyko Borissov akibat tekanan demonstrasi antikorupsi.

Bulgaria juga merupakan anggota NATO. Negara ini resmi bergabung dengan zona euro pada 1 Januari, tak lama setelah masuk ke kawasan bebas perbatasan Schengen.

Pemungutan suara pada Minggu (19/04) menjadi pemilu kedelapan dalam lima tahun terakhir. Sejumlah pihak berharap hasil kali ini dapat mengakhiri kebuntuan politik yang berkepanjangan.

“Kami akan melakukan segala cara untuk tidak pemilu terus-terusan. Ini merusak Bulgaria,” kata Radev setelah pemungutan suara ditutup.

Progressive Bulgaria sebelumnya sudah diprediksi unggul, meski hasil sementara menunjukkan partai itu secara tak terduga meraih mayoritas absolut. Seusai mencoblos, Radev yang berusia 62 tahun mengajak warga untuk berpartisipasi, seraya menyebut tingginya partisipasi sebagai “satu-satunya cara memberantas praktik jual beli suara.”

Radev merupakan mantan jenderal angkatan udara yang menjabat presiden selama sembilan tahun, sebelum mundur pada Januari untuk maju dalam pemilu. Ia berjanji melawan apa yang ia sebut sebagai “model pemerintahan oligarki” di Bulgaria.

Dalam kebijakan luar negeri, Radev mendorong pemulihan hubungan dengan Rusia dan mengkritik bantuan militer untuk Ukraina yang menghadapi invasi Rusia. Meski demikian, ia secara resmi mengecam invasi tersebut dan menyatakan tidak akan menghalangi bantuan Uni Eropa untuk Ukraina jika terpilih. Radev juga menolak kebijakan energi hijau Uni Eropa yang menurutnya terlalu naif.

Sementara itu, Boyko Borissov sempat menyampaikan pesimisme terkait peluang partainya. Saat memberikan suara di Bankya, ia mengatakan GERB tidak akan berkoalisi. “Saya tidak melihat dengan siapa kami bisa berkoalisi,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa partainya akan menjadi oposisi yang konstruktif, terutama dalam isu geopolitik seperti pertahanan.

Namun beberapa jam kemudian, Borissov terdengar lebih optimistis. “Memenangi pemilu tidak sama dengan memerintah. Pemilu menentukan siapa yang unggul, tapi negosiasi menentukan siapa yang berkuasa,” katanya. Ia menyebut GERB bisa berada di dalam maupun di luar pemerintahan, dan menilai politik membutuhkan kesabaran.

Borissov telah tiga kali menjabat sebagai perdana menteri. Dalam kampanye, ia menyoroti capaian partainya, termasuk membawa Bulgaria bergabung dengan zona euro pada tahun ini.