Pasar saham global bergerak fluktuatif pada Selasa (7/4/2026) seiring lonjakan harga minyak dunia yang menembus level US$110 per barel. Kenaikan harga energi ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah, setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menetapkan tenggat hingga Selasa malam untuk tercapainya kesepakatan dengan Iran.
Ketidakpastian pasar telah meningkat sejak pecahnya perang antara AS-Israel dan Iran pada akhir Februari. Dalam perkembangan yang menambah tekanan, Iran secara efektif menutup Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas global—yang memicu kekhawatiran akan dampak lanjutan terhadap inflasi dunia.
Di pasar energi, harga minyak mentah Brent naik 1% menjadi US$111,28 per barel. Kenaikan tersebut memperpanjang reli harga yang telah melonjak lebih dari 50% sejak perang dimulai. Di sisi lain, pergerakan pasar saham cenderung hati-hati: indeks saham utama Eropa STOXX 600 naik tipis 0,6%, sementara kontrak berjangka saham AS bergerak datar.
Analis pasar Capital.com, Kyle Rodda, menilai pasar berada dalam fase ketidakpastian tinggi. Ia menyebut situasi saat ini kembali berada dalam hitungan mundur yang ditentukan Trump, sehingga hasil akhirnya sulit diprediksi.
Konflik yang berkepanjangan juga memunculkan kekhawatiran stagflasi, yakni kombinasi inflasi tinggi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi arah kebijakan suku bunga global, termasuk Federal Reserve yang kini diperkirakan tidak akan memangkas suku bunga pada tahun ini.
Data terbaru menunjukkan sektor jasa AS melambat pada Maret, sementara biaya input bisnis meningkat tajam. Perkembangan itu dipandang sebagai indikasi awal tekanan inflasi yang dipicu lonjakan harga energi. Pasar juga menanti rilis data inflasi AS pada Jumat, yang diperkirakan akan mencerminkan dampak kenaikan harga energi terhadap tekanan harga secara keseluruhan.
Di pasar valuta asing, dolar AS tetap kuat sebagai aset safe haven. Indeks dolar berada di level 100,03, mendekati level tertinggi terbaru, sementara euro stabil di US$1,1535. Yen Jepang diperdagangkan di kisaran 159,74 per dolar AS, mendekati level psikologis 160 yang menjadi perhatian pelaku pasar terkait potensi intervensi otoritas Jepang.
Permintaan terhadap aset lindung nilai juga terlihat dari pergerakan emas. Harga emas naik 0,7% menjadi US$4.680 per ons di tengah ketidakpastian global.
Di sisi geopolitik, Trump memperingatkan Iran bisa “dihancurkan” jika tidak memenuhi tenggat kesepakatan, termasuk ancaman untuk menyerang infrastruktur energi seperti pembangkit listrik dan jembatan. Analis OCBC, Vasu Menon, menilai langkah semacam itu akan menjadi eskalasi besar yang berpotensi memicu serangan balasan dan semakin mengganggu fasilitas energi di kawasan Teluk.
Sementara itu, Iran menyatakan menginginkan akhir permanen dari konflik, bukan sekadar gencatan senjata sementara, dan menolak tekanan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Dengan ketegangan yang masih meningkat dan belum ada titik temu diplomatik, pasar global diperkirakan tetap volatil dalam jangka pendek, dengan harga energi menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan ekonomi dunia.

