JAKARTA – Tekanan ekonomi global kembali membayangi pasar keuangan Indonesia sepanjang Maret 2026. Gejolak geopolitik dan meningkatnya ketidakpastian mendorong pelaku pasar mengambil langkah defensif, yang tercermin pada pelemahan pasar saham, arus keluar dana asing, serta meningkatnya volatilitas di berbagai instrumen.
Dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), otoritas menyampaikan stabilitas Sektor Jasa Keuangan (SJK) secara umum masih terjaga di tengah dinamika global dan domestik.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menyebut ketidakpastian global meningkat seiring eskalasi tensi geopolitik di kawasan Teluk, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi energi dunia. Situasi tersebut memicu lonjakan harga energi dan meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
Di sisi lain, laporan OECD dalam Interim Economic Outlook Maret 2026 mencatat prospek ekonomi global mengalami koreksi akibat konflik di Timur Tengah.
Di pasar saham domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah di level 7.048,22 pada akhir Maret 2026. Secara bulanan, IHSG terkoreksi 14,42% (month to month/mtm) dan turun 18,49% secara tahun berjalan (year to date/ytd).
Aktivitas perdagangan turut melambat. Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) tercatat Rp20,66 triliun, menurun dibandingkan Februari 2026 yang sebesar Rp25,62 triliun. Kondisi ini mencerminkan sikap wait and see pelaku pasar.
Dari sisi likuiditas, rata-rata bid-ask spread disebut tetap terjaga di level 1,55 kali. Namun, investor asing mencatat net sell sebesar Rp23,34 triliun pada Maret 2026, berbalik dari posisi net buy pada bulan sebelumnya.
Tekanan juga terlihat di pasar obligasi. Indonesia Composite Bond Index ditutup pada level 433,16, terkoreksi 2,03% secara bulanan dan 1,74% secara ytd. Sejalan dengan itu, yield Surat Berharga Negara (SBN) meningkat rata-rata 44,47 basis poin secara bulanan, yang mencerminkan kenaikan persepsi risiko global.
Investor nonresiden turut mencatat net sell sebesar Rp21,80 triliun di pasar SBN, menandakan tekanan yang cukup kuat pada pasar obligasi domestik.
Di tengah gejolak tersebut, industri pengelolaan investasi masih menunjukkan ketahanan. Nilai Asset Under Management (AUM) tercatat mencapai Rp1.084,10 triliun, hanya terkoreksi tipis secara bulanan namun tetap tumbuh secara tahunan.

