Memasuki 2026, sebagian investor pasar saham Indonesia menantikan kebangkitan pasar modal. Namun, pemulihan sentimen dinilai belum sepenuhnya terjadi karena sejumlah dinamika global dan domestik yang membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati.
Di tengah stabilitas ekonomi nasional yang relatif terjaga, eskalasi geopolitik di Timur Tengah, volatilitas arus modal global, pergerakan rupiah, serta tantangan struktural di dalam negeri disebut ikut memengaruhi keputusan investasi. Kondisi tersebut mendorong sikap defensif investor, sementara peluang pasar saham domestik dinilai masih bergerak dalam rentang terbatas.
Chief Investment Officer, Equity, Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), Samuel Kesuma, menyatakan indikator makro Indonesia sebenarnya cukup kuat, dengan pertumbuhan ekonomi kembali di sekitar 5% dan inflasi yang tetap terkendali. Meski demikian, ketidakpastian global serta tantangan dalam eksekusi pembangunan membuat sentimen pasar belum pulih sepenuhnya.
“Dengan lanskap pasar Indonesia yang masih mencari momentum, sementara Asia Pasifik menawarkan peluang baru dan lebih progresif, pendekatan diversifikasi global menjadi langkah strategis,” ujar Samuel dalam rilis, Kamis (5/3).
Berbeda dengan Indonesia, pasar saham di sejumlah negara Asia Pasifik mencatat kinerja solid sepanjang 2025 dan diperkirakan masih memiliki momentum pada 2026. Diversifikasi investor global dari pasar negara maju, serta perkembangan teknologi—termasuk revolusi kecerdasan buatan (AI)—disebut menjadi penopang utama.
Senior Portfolio Manager Asia Pacific Equities Manulife Investment Management, Marco Giubin, menilai kawasan Asia Pasifik memasuki 2026 dengan prospek yang lebih optimistis. Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan emerging and developing Asia tetap kuat dengan potensi sekitar 5%.
Menurut Marco, prospek tersebut ditopang pemulihan manufaktur, peningkatan konsumsi, dan percepatan transformasi digital. Korea Selatan dan Taiwan disebut memimpin inovasi teknologi, sementara India dan negara-negara ASEAN ditopang pasar domestik yang besar. Relokasi manufaktur global dan diversifikasi rantai pasok juga dinilai ikut mendorong aliran modal ke kawasan ini.
Sejumlah sektor yang dipandang prospektif antara lain teknologi semikonduktor, kesehatan dan bioteknologi, ritel, serta energi terbarukan.
Head of Investment Specialist MAMI, Freddy Tedja, menilai diversifikasi lintas negara menjadi strategi penting bagi investor Indonesia di tengah pergerakan pasar domestik yang masih terbatas. Namun, ia mengingatkan investasi langsung pada saham luar negeri tidak selalu mudah bagi investor ritel karena perlu mempertimbangkan akses, regulasi, biaya transaksi, hingga fluktuasi mata uang.
Menurut Freddy, instrumen seperti reksadana global dapat menjadi alternatif untuk memperoleh eksposur ke pasar internasional secara lebih praktis. Ia mencontohkan Reksadana Manulife Saham Syariah Asia Pasifik Dollar AS (Mansyaf) yang memberikan eksposur pada saham-saham syariah unggulan di kawasan Asia Pasifik.
“Melalui instrumen seperti reksadana Mansyaf, investor Indonesia dapat mengambil bagian dalam pertumbuhan kawasan yang lebih dinamis tanpa harus menavigasi kompleksitas investasi global secara langsung,” ujar Freddy.
Marco menambahkan, koreksi pasar yang terjadi saat ini diperkirakan bersifat sementara karena fundamental perusahaan dinilai tetap kuat. Ia juga menyebut portofolio reksadana tersebut dirancang untuk menangkap peluang sektor-sektor potensial di Asia Pasifik dengan tetap berpegang pada prinsip investasi syariah.

