BERITA TERKINI
Penutupan Selat Hormuz Picu Gejolak Minyak Dunia, Indonesia Rentan karena Bergantung Impor

Penutupan Selat Hormuz Picu Gejolak Minyak Dunia, Indonesia Rentan karena Bergantung Impor

Penutupan Selat Hormuz oleh Pemerintah Iran memicu pergerakan harga minyak mentah dunia yang dinamis. Selain memengaruhi harga, hambatan pasokan juga menimbulkan kepanikan di sejumlah negara, terutama yang bergantung pada pasokan minyak mentah dari Timur Tengah.

Indonesia turut terdampak karena berstatus sebagai negara net importir. Ketergantungan Indonesia pada pasokan dari luar negeri masih tinggi, sementara kemampuan produksi domestik disebut berada di kisaran maksimal 600 ribu barel per hari, dengan realisasi yang dinikmati sekitar 480 ribu barel per hari.

Dengan kondisi tersebut, Indonesia diperkirakan perlu mengimpor sekitar 1,2 juta barel per hari untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Sejumlah analis kebijakan energi mengingatkan pemerintah agar menyiapkan strategi keluar (exit strategy) untuk menghadapi skenario terburuk akibat gangguan pasokan.

Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, menyatakan sebagian besar kebutuhan minyak Indonesia saat ini masih berasal dari luar negeri karena produksi dalam negeri belum mencukupi. Menurutnya, impor Indonesia diperoleh dari Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Serikat, meski dari AS jumlahnya relatif kecil. Ia juga menekankan sebagian besar distribusi pasokan tersebut melewati Selat Hormuz.

"Saat ini kemampuan produksi kita diangka 600 ribu barel perhari, itupun kita dapatnya cuma diangka 480 an ribu barel perhari, dan terakhir produksi kita tidak sampai 600 ribu barel perhari, dan kita harus impor sekitar 1,2 juta barel perhari, yang sementara kita peroleh dari timur tengah, Afrika dan Amerika Serikat walaupun jumlahnya sangat sedikit dan sebagian besar distribusinya melewati selat Hormuz,” kata Komaidi, Selasa, 3 Maret 2026.

Di sisi lain, Indonesia disebut telah menandatangani kesepakatan tarif resiprokal dan perjanjian dagang dengan Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif untuk membantu menyelesaikan persoalan pasokan BBM yang terhambat akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz.

Komaidi menilai pemerintah perlu mengantisipasi kemungkinan terhambatnya Selat Hormuz, baik karena faktor yang disengaja maupun kondisi alami. Menurutnya, gangguan di jalur tersebut dapat menghambat pasokan minyak, sementara cadangan minyak dalam negeri disebut hanya mampu bertahan sekitar 21–25 hari.