Laporan terbaru dari Uni Afrika (AU), Komisi Ekonomi PBB untuk Afrika (ECA), dan Bank Dunia memperingatkan bahwa Afrika berada di ambang lonjakan biaya hidup yang drastis seiring memanasnya situasi di Timur Tengah. Peringatan ini muncul di tengah gangguan jalur pelayaran global serta pasokan energi dan pupuk yang dinilai dapat memperburuk tekanan ekonomi yang sudah ada di sejumlah negara Afrika.
Menurut laporan tersebut, ketergantungan banyak negara Afrika pada impor dari Timur Tengah membuat dampak konflik berpotensi cepat merembet. Risiko yang disorot mencakup kenaikan harga bahan bakar dan pangan, meningkatnya biaya pengiriman dan asuransi, tekanan pada nilai tukar, hingga kondisi fiskal yang lebih ketat.
Salah satu faktor utama yang ditekankan adalah terganggunya jalur strategis seperti Selat Hormuz. Hingga awal periode laporan, jalur ini disebut masih sebagian terblokir akibat serangan udara Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari, yang berdampak langsung pada distribusi energi global.
Gangguan pasokan gas alam cair (LNG) juga dinilai berisiko tinggi. Laporan menilai efeknya tidak hanya mendorong kenaikan harga bahan bakar, tetapi juga memengaruhi produksi pupuk seperti amonia dan urea. Kondisi ini dapat meningkatkan biaya pertanian dan mengganggu pasokan pangan, terutama pada musim tanam penting antara Maret hingga Mei.
Jika konflik berlangsung lebih dari enam bulan, pertumbuhan ekonomi Afrika diperkirakan terpangkas sekitar 0,2 persen pada akhir 2026. Dampak ini dinilai signifikan mengingat Timur Tengah menyumbang sekitar 15,8 persen impor dan 10,9 persen ekspor Afrika.
Meski demikian, laporan juga mencatat adanya peluang keuntungan terbatas bagi sejumlah negara. Nigeria, misalnya, berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga minyak dan peningkatan ekspor dari Kilang Dangote. Mozambik juga disebut berpeluang meningkatkan aktivitas ekspor LNG.
Perubahan rute pelayaran global yang kini banyak dialihkan melewati Tanjung Harapan turut membuka peluang bagi beberapa negara. Aktivitas pelabuhan di Afrika Selatan, Namibia, dan Mauritius diperkirakan dapat meningkat. Kenya dinilai berpotensi memperkuat posisinya sebagai pusat logistik di Afrika Timur, sementara Ethiopia dapat memanfaatkan perannya sebagai jalur transportasi udara darurat melalui Ethiopian Airlines.
Di tengah risiko tersebut, Afrika Selatan telah mengambil langkah mitigasi dengan memangkas sementara pajak bahan bakar. Kebijakan ini berlaku dari 1 April hingga 5 Mei, dengan penurunan sebesar R3 (sekitar 0,16 dolar AS) per liter untuk membantu menahan lonjakan harga bensin dan solar.

