PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA), pemegang lisensi waralaba Pizza Hut di Indonesia, menghadapi tekanan manajerial dalam beberapa tahun terakhir, terutama terkait efisiensi operasional dan strategi bisnis. Perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu pemain dominan di segmen pizza ini mengalami penurunan kinerja yang mendorong perubahan arah strategis.
Tekanan tersebut tercermin dari kinerja keuangan 2024. Pada semester I 2024, perusahaan membukukan rugi bersih Rp 75,11 miliar, meningkat dibanding rugi Rp 45,12 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Penjualan juga turun menjadi Rp 1,37 triliun dari Rp 1,81 triliun.
Dari sisi jaringan gerai, hingga 30 September 2024 perusahaan mengoperasikan 595 outlet, turun dari 615 outlet pada akhir 2023. Artinya, terdapat penutupan 20 outlet dalam kurun satu tahun.
Untuk periode sembilan bulan hingga September 2024, penjualan bruto tercatat sekitar Rp 2,3 triliun, turun sekitar 14,8% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode itu, kerugian tercatat sekitar Rp 96,7 miliar.
Meski demikian, perusahaan mulai menunjukkan tanda perbaikan pada 2025. Pada kuartal I 2025, penjualan bersih mencapai Rp 707,10 miliar dengan laba bersih Rp 418,57 juta. Tren ini berlanjut pada semester I 2025, ketika perusahaan mencatat laba bersih sekitar Rp 16 miliar dan penjualan bersih sekitar Rp 1,5 triliun, naik sekitar 12,4% secara tahunan.
Perkembangan tersebut menjadi latar untuk menilai akar persoalan yang dihadapi perusahaan. Salah satu faktor yang disorot adalah struktur biaya dan efisiensi operasional. Model bisnis Pizza Hut di Indonesia secara historis menekankan konsep dine-in sebagai restoran keluarga, yang identik dengan investasi gerai berukuran besar, sewa lokasi premium, serta fasilitas makan dan layanan lengkap.
Konsep ini membuat beban biaya tetap dan biaya operasional cenderung tinggi, mencakup sewa, listrik, gaji, perawatan, serta kebutuhan manajemen gerai yang lebih besar. Ketika penjualan menurun atau kunjungan dine-in berkurang, utilisasi gerai ikut turun. Kondisi ini memicu under-utilisation, yang pada akhirnya membuat biaya tetap per unit meningkat dan menekan margin.
Dengan kombinasi penurunan penjualan, penyesuaian jumlah outlet, serta beban biaya tetap yang tinggi, perusahaan sempat berada dalam tekanan serius. Namun, data 2025 menunjukkan adanya pemulihan awal, meski tantangan efisiensi dan penyesuaian strategi bisnis tetap menjadi perhatian utama dalam menjaga keberlanjutan kinerja.