Perdana Menteri Albania Edi Rama menilai Uni Eropa melakukan “kesalahan strategis besar” ketika memutus komunikasi dengan Rusia setelah eskalasi konflik Ukraina. Menurutnya, dialog tetap merupakan instrumen penting diplomasi meski situasi berada dalam ketegangan.
Dalam wawancara dengan Politico yang dipublikasikan Jumat, Rama menegaskan Eropa semestinya menjaga jalur komunikasi dengan semua pihak. Ia menyampaikan pandangan itu dalam forum ekonomi di Delphi, Yunani. “Eropa harus selalu, selalu berbicara dengan semua pihak,” ujarnya.
Rama berpendapat, keputusan memutus saluran komunikasi dengan Moskow justru merugikan posisi Eropa. Sejak 2022, Uni Eropa meningkatkan tekanan terhadap Rusia melalui sanksi ekonomi dan pembatasan hubungan diplomatik, sekaligus memberikan dukungan finansial dan militer dalam jumlah besar kepada Ukraina.
Menurut Rama, menunda komunikasi berisiko mengurangi pengaruh Eropa dalam jangka panjang. “Semakin lama kita menunda, semakin kecil pengaruh yang kita miliki. Rusia tidak akan pergi ke mana pun,” katanya.
Pernyataan Rama muncul di tengah sinyal perubahan sikap di sejumlah negara Eropa. Beberapa pemimpin, termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, disebut mulai membuka peluang untuk kembali menjalin komunikasi dengan Rusia di tengah kebuntuan konflik.
Di sisi lain, dinamika perundingan perdamaian masih menghadapi hambatan. Upaya negosiasi yang melibatkan Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat dilaporkan belum menghasilkan kemajuan signifikan.
Ketegangan juga meningkat terkait peran Eropa dalam proses tersebut. Sejumlah negara anggota Uni Eropa mengkhawatirkan posisi mereka yang dinilai semakin terpinggirkan dalam pembicaraan tingkat tinggi.
Dari pihak Rusia, kritik terhadap Eropa turut menguat. Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov menilai Uni Eropa telah kehilangan kredibilitas sebagai mediator dalam konflik. Sementara itu, Presiden Rusia Vladimir Putin menuding sejumlah negara Eropa mengajukan tuntutan yang tidak realistis, yang menurutnya justru menghambat proses perdamaian.
Perkembangan ini menegaskan bahwa konflik Ukraina tidak hanya menjadi medan pertempuran militer, tetapi juga arena tarik-menarik pengaruh diplomatik. Di tengah situasi tersebut, perdebatan mengenai pentingnya dialog kembali mengemuka sebagai salah satu upaya mencari jalan keluar dari konflik yang berlarut.