Di tengah kebuntuan panjang perang Ukraina dan memburuknya hubungan Rusia dengan negara-negara Barat, muncul sinyal baru dari Eropa terkait kemungkinan pembukaan kembali jalur komunikasi dengan Moskow. Presiden Estonia Alar Karis menyatakan Uni Eropa perlu bersiap untuk membuka dialog dengan Rusia apabila perang berakhir secara tiba-tiba.
Dalam wawancara dengan media Finlandia, Karis mempertanyakan kesiapan Eropa menghadapi skenario pascaperang. Ia mendorong agar Uni Eropa menyiapkan langkah diplomatik sejak dini, termasuk dengan menunjuk utusan khusus untuk membuka kembali saluran komunikasi dengan Rusia. “Apakah kita siap jika perang berakhir hari ini atau besok?” kata Karis.
Pernyataan tersebut mencuat meski Estonia dikenal sebagai salah satu pendukung paling vokal bagi Ukraina sejak eskalasi konflik pada 2022. Karis juga menilai negara-negara kecil seperti Estonia dan Finlandia perlu dilibatkan dalam setiap keputusan besar terkait Rusia, mengingat kontribusi mereka dalam mendukung Kiev.
Namun, gagasan membuka dialog kembali disebut masih menghadapi resistensi di internal Uni Eropa. Sejumlah pejabat senior, termasuk diplomat Kaja Kallas, digambarkan tetap menolak keterlibatan langsung dengan Kremlin sebelum adanya konsesi dari Moskow.
Di sisi lain, Rusia menuduh negara-negara Eropa memperpanjang konflik dan semakin mendekat pada konfrontasi terbuka. Tuduhan itu dikaitkan dengan peningkatan belanja militer dan rencana “ReArm Europe” senilai ratusan miliar euro. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov bahkan memperingatkan bahwa jika Eropa “bersiap untuk menyerang Rusia,” maka Moskow akan merespons dengan “segala cara yang tersedia.”
Di luar dinamika politik dan keamanan tersebut, faktor energi—khususnya minyak Rusia—tetap menjadi elemen yang membayangi perhitungan Barat. Meski berbagai paket sanksi telah diberlakukan sejak awal konflik, minyak Rusia disebut belum tergantikan secara struktural. Rusia juga dinilai mampu beradaptasi sehingga tetap relevan dalam sistem energi global.
Pendapatan dari sektor minyak dan gas masih bergerak mengikuti harga global dan memberi ruang fiskal bagi Moskow untuk bertahan. Catatan Reuters menyebut penerimaan energi Rusia diperkirakan meningkat secara bulanan seiring kenaikan harga minyak global, meskipun secara tahunan masih lebih rendah—menggambarkan bahwa sanksi Barat belum sepenuhnya memutus sumber utama pemasukan Kremlin.