Kondisi global pada 2026 diperkirakan masih diwarnai ketegangan berlapis, mulai dari perang dagang hingga konflik bersenjata yang berlangsung di sejumlah kawasan. Analisis perusahaan intelijen geopolitik AS, Stratfor, menilai ketidakpastian kebijakan tarif Amerika Serikat, persaingan teknologi AS-China, serta dinamika di Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Latin akan menjadi faktor utama yang membentuk arah ekonomi dan keamanan internasional.
Ketidakpastian tarif AS dan efek rambatan global
Menurut proyeksi tersebut, ketidakpastian tarif yang didorong AS akan tetap tinggi sepanjang 2026. Situasi ini dipicu ancaman hukum terhadap agenda tarif pemerintahan Donald Trump serta potensi perselisihan dengan mitra dagang terkait ketentuan kesepakatan dagang. Mahkamah Agung AS diperkirakan dapat membatalkan tarif yang diberlakukan berdasarkan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional, termasuk tarif timbal balik dan tarif terkait fentanil, pada suatu titik di 2026.
Jika pembatalan terjadi, Gedung Putih diprediksi mencari dasar hukum lain untuk mengganti tarif. Namun karena prosedur alternatif memerlukan investigasi mendalam dan memakan waktu, pemerintah AS kemungkinan memprioritaskan negara tertentu untuk dikenai tarif, terutama mitra yang kerap dikritik seperti Uni Eropa, Kanada, dan Meksiko. Terlepas dari putusan pengadilan, tarif diperkirakan tetap digunakan sebagai alat tekan, baik dengan alasan ketidakpatuhan terhadap kesepakatan dagang 2025 maupun isu non-perdagangan seperti kebijakan teknologi Uni Eropa dan konflik global.
Ketidakpastian ini dinilai dapat menggerus kepercayaan investor, khususnya di sektor manufaktur AS, sekaligus menghambat pertumbuhan ekonomi. Jika tarif dibatalkan secara hukum, proses pengembalian dana tarif kepada perusahaan-perusahaan di berbagai negara diperkirakan berlangsung tidak mulus. Di luar AS, kekhawatiran pengalihan arus perdagangan juga dapat mendorong semakin banyak negara menerapkan hambatan dagang sendiri pada sektor sensitif untuk melindungi pasar domestik dari potensi banjir barang yang sebelumnya ditujukan ke pasar AS.
Rivalitas teknologi AS-China dan risiko gangguan rantai pasok
Stratfor menilai kompetisi strategis AS dan China, ditambah pembangunan pusat data global yang masif, berpotensi memicu ketidakpastian rantai pasok. Bahan baku kritis dan pasokan chip memori disebut menjadi area paling rentan terhadap gangguan. Meski pada Oktober 2025 kedua negara sepakat menjeda pembatasan ekspor dan teknologi hingga pertengahan November, kepentingan strategis masing-masing—terutama terkait pengembangan kecerdasan buatan (AI)—membuat kesepakatan tersebut dinilai berisiko runtuh.
Jika kesepakatan pecah, China diperkirakan dapat membatasi ekspor logam tanah jarang (rare earth) yang berpotensi memukul industri otomotif dan kedirgantaraan. Walaupun gangguan diproyeksikan bersifat sementara, diversifikasi rantai pasok di luar China dinilai masih berjalan lambat sepanjang 2026. Pada saat yang sama, lonjakan permintaan chip memori berkinerja tinggi untuk AI berpotensi memicu kelangkaan semikonduktor yang mengingatkan pada krisis pasca-COVID dan dapat mengganggu berbagai industri, terutama otomotif.
AI: lonjakan investasi, risiko gelembung, dan tekanan sosial
Investasi pada sektor AI diperkirakan terus meningkat pada 2026. Risiko “gelembung pecah” dinilai kecil kemungkinannya terjadi secara total, tetapi ancamannya meningkat seiring munculnya penolakan publik terkait dampak lingkungan, hilangnya lapangan kerja, serta persaingan model AI China yang makin canggih. Valuasi perusahaan AI yang meroket tanpa kepastian laba pada 2026 disebut dapat menimbulkan kekhawatiran bubble.
Jika koreksi terjadi, dampak awal diperkirakan menghantam perusahaan AI, lalu merambat ke penyedia infrastruktur pusat data dan semikonduktor. Namun, proyeksi tersebut menyebut krisis ekonomi sistemik kemungkinan tidak terjadi karena sektor ini didorong perusahaan teknologi besar yang memiliki cadangan kas kuat, bukan bergantung pada kredit atau utang.
Di sisi sosial, isu pemindahan lapangan kerja akibat AI diperkirakan menjadi topik panas dalam negosiasi buruh di negara-negara Barat, terutama bagi pekerja kerah putih. China juga diproyeksikan memperkecil ketertinggalannya dari AS di bidang AI. Model-model AI China, khususnya yang bersifat open-weight, dinilai berpotensi memiliki performa mendekati model unggulan AS dan dapat menjadi standar yang lebih murah serta mudah dikustomisasi bagi peneliti dan perusahaan global.
Amerika Latin: Venezuela dan target kartel narkoba
Di Amerika Latin, AS diperkirakan menargetkan aset militer dan jaringan perdagangan narkoba di Venezuela. Namun, tanpa invasi darat, Presiden Nicolas Maduro diprediksi tetap berkuasa. Operasi militer AS disebut dapat diintensifkan melalui serangan udara terhadap kamp kartel, pelabuhan, dan pangkalan militer untuk melemahkan rezim Maduro. Washington diproyeksikan terus mendorong Maduro mundur sambil berupaya memicu pembelotan di aparat keamanan dan memperkuat oposisi.
Selain Venezuela, AS juga diperkirakan menargetkan kartel di wilayah perbatasan Meksiko dan Kolombia. Di Meksiko, tindakan sepihak AS dapat memperburuk hubungan bilateral dan mengancam negosiasi dagang. Sementara di Kolombia, terpilihnya pemerintahan sayap kanan pada Agustus mendatang diperkirakan mempererat kerja sama militer dengan AS. Kesamaan ideologi ini dinilai dapat memfasilitasi aksi militer AS terhadap pengedar narkoba di negara lain seperti Ekuador, Peru, dan Honduras.
Timur Tengah: langkah Israel menjelang pemilu 2026
Di Timur Tengah, Israel diproyeksikan bergerak di antara strategi pelemahan bertahap (attrition) dan eskalasi militer di Gaza, Lebanon, dan Iran menjelang pemilu 2026. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu disebut mengejar kemenangan militer besar untuk mengamankan masa jabatannya. Strategi ini diperkirakan melibatkan tekanan militer berkelanjutan, pembatasan bantuan, dan blokade rekonstruksi, dengan ketergantungan besar pada dukungan diplomatik dan militer AS.
Eskalasi dinilai berisiko memicu kembali perang besar dengan Iran dan Hizbullah, serta menghidupkan lagi serangan Houthi di Laut Merah. Jika Netanyahu kalah dalam pemilu, pemerintahan baru diperkirakan tetap melanjutkan strategi tersebut pada awalnya, namun ada peluang mengambil pendekatan lebih moderat untuk meredakan ketegangan dengan Hamas, Hizbullah, dan Iran pada tahap berikutnya.
AS-China, tekanan tarif, dan isu Taiwan
Gencatan senjata perdagangan AS-China diperkirakan bertahan, meski eskalasi singkat tetap mungkin terjadi. Trump diproyeksikan menekan China untuk memperoleh konsesi dagang menjelang pemilu sela AS, sementara China diperkirakan merespons cepat. Setelah pemilu sela, Trump disebut mungkin lebih agresif menggunakan tarif sebagai alat negosiasi untuk mengejar kesepakatan komprehensif, meski tantangan hukum dan dinamika domestik dapat menghambat langkah tersebut.
Di dalam negeri, China diperkirakan memperluas kebijakan dukungan konsumsi, tetapi pertumbuhan ekonomi dinilai melambat tanpa reformasi pajak atau upah yang signifikan. Terkait Taiwan, latihan militer China di sekitar pulau diproyeksikan meningkat, namun invasi atau blokade besar-besaran dinilai kecil kemungkinannya terjadi karena pertimbangan ekonomi dan harapan munculnya pemerintahan yang lebih pro-China pada pemilu Taiwan 2028.
Eropa: energi, pertahanan, dan gesekan perdagangan
Uni Eropa diperkirakan mengintensifkan upaya mengurangi ketergantungan pada energi Rusia dan mineral kritis dari China. UE juga disebut bersiap mendukung Ukraina secara sepihak jika AS menarik dukungan. Langkah ini diproyeksikan mempercepat momentum persenjataan kembali dan integrasi pertahanan di Eropa, meski risiko ancaman hibrida dari Rusia dinilai tetap tinggi.
Di sektor perdagangan, Mekanisme Penyesuaian Perbatasan Karbon (CBAM) diperkirakan mulai beroperasi, menambah beban biaya bagi importir dan memicu gesekan dengan mitra dagang. Brussel juga diproyeksikan mulai menghapus kontrak minyak dan gas Rusia yang tersisa, serta meluncurkan inisiatif untuk meningkatkan daya saing digital dan lingkungan.
Peluang negosiasi perang Rusia-Ukraina
Rusia dan Ukraina diperkirakan tetap bertahan pada posisi masing-masing di awal 2026 tanpa konsesi besar. Namun, meningkatnya tekanan militer, ekonomi, dan politik, serta garis waktu politik di AS, dinilai dapat memperbesar peluang penyelesaian melalui negosiasi seiring berjalannya tahun. Pemerintahan Trump diproyeksikan menerapkan tekanan diplomatik yang berubah-ubah—mulai dari memperketat sanksi terhadap Rusia hingga mengancam pengurangan bantuan untuk Ukraina—untuk mendorong keduanya ke meja perundingan.
Rusia disebut mungkin memprioritaskan kesepakatan sebelum Kongres AS baru menjabat setelah pemilu sela, dengan tujuan meresmikan perolehan wilayah dan memperoleh keringanan sanksi. Namun, setiap penyelesaian diperkirakan dapat memaksa Ukraina kehilangan wilayah signifikan dengan jaminan keamanan yang lemah, sehingga meninggalkan ketidakpastian jangka panjang terkait potensi agresi Rusia di masa depan.
Afrika Selatan: reformasi dan risiko kepercayaan investor
Di Afrika Selatan, pemerintah koalisi diperkirakan mampu meluncurkan reformasi di sektor energi dan air. Namun, kepercayaan investor dinilai dapat terganggu oleh temuan penyelidikan mengenai pengaruh kriminal di kelas politik dan aparat negara. Situasi ini berpotensi memicu ketegangan internal di dalam partai ANC dan melemahkan posisi Presiden Cyril Ramaphosa menjelang pemilihan lokal pada akhir 2026.

