BERITA TERKINI
Pupuk Indonesia Perkuat Pasokan Domestik di Tengah Disrupsi Rantai Pasok Global

Pupuk Indonesia Perkuat Pasokan Domestik di Tengah Disrupsi Rantai Pasok Global

PT Pupuk Indonesia (Persero) menyatakan fokus menjaga pasokan pupuk untuk kebutuhan dalam negeri sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam menjaga keseimbangan pasokan pupuk global. Langkah ini diambil sebagai respons atas disrupsi rantai pasok pupuk dunia yang dipicu ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, yang turut memengaruhi jalur distribusi global.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menegaskan, prioritas utama perusahaan tetap pemenuhan kebutuhan pupuk domestik sebagai fondasi ketahanan pangan nasional. Namun, ia menyebut Indonesia memiliki ruang untuk berkontribusi pada stabilitas pasokan global setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi.

“Di tengah dinamika global, prioritas kami tetap memastikan kebutuhan pupuk dalam negeri terpenuhi dengan baik. Namun, dengan kapasitas yang kami miliki, Indonesia juga memiliki ruang untuk berkontribusi dalam menjaga keseimbangan pasokan global. Setelah kebutuhan domestik terpenuhi, terdapat potensi ekspor sekitar 1,5 hingga 2 juta ton, yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung stabilitas pasar global,” ujar Rahmad.

Rahmad mengatakan posisi strategis Indonesia sebagai salah satu produsen urea dunia tidak terbentuk secara instan, melainkan merupakan hasil transformasi yang dijalankan perusahaan secara konsisten untuk memperkuat fondasi industri pupuk nasional.

Ketahanan pasokan tersebut didukung kapasitas produksi Pupuk Indonesia yang mencapai 14,8 juta ton per tahun, termasuk urea sebesar 9,4 juta ton. Dengan basis produksi yang kuat dan didukung sumber daya domestik, Indonesia dinilai memiliki ketahanan lebih baik dalam menghadapi tekanan pada rantai pasok global.

Di sisi kebijakan, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 yang kemudian disempurnakan melalui Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025. Regulasi ini mendorong sistem distribusi yang lebih efektif serta skema pembiayaan yang lebih adaptif.

Melalui perubahan skema subsidi dari cost plus menjadi market-based mechanism atau marked-to-market (MtM), serta dukungan pembayaran subsidi sebagian di muka, Pupuk Indonesia memperoleh fleksibilitas finansial yang lebih kuat. Menurut perusahaan, hal ini membantu menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku sekaligus mempercepat program revitalisasi industri.

“Revitalisasi menjadi kunci untuk memastikan industri pupuk nasional tetap andal dan berdaya saing. Dengan dukungan kebijakan baru, kami kini memiliki fleksibilitas pembiayaan yang lebih kuat sehingga pembangunan dan peremajaan pabrik dapat dipercepat. Dalam lima tahun ke depan, Pupuk Indonesia menargetkan pembangunan dan revitalisasi tujuh pabrik sebagai bagian dari penguatan kapasitas dan efisiensi produksi,” kata Rahmad.

Rahmad menambahkan, transformasi tersebut juga berdampak pada sektor pertanian. Penyaluran pupuk bersubsidi disebut berhasil dilakukan tepat waktu sejak 1 Januari selama dua tahun berturut-turut. Selain itu, Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi turun 20% pada 2025, yang diikuti peningkatan penyerapan pupuk subsidi sebesar 31% pada kuartal I/2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.