BERITA TERKINI
Rusia Peringatkan Eropa soal Rencana Penempatan Jet Nuklir Prancis

Rusia Peringatkan Eropa soal Rencana Penempatan Jet Nuklir Prancis

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan Prancis akan memperluas jumlah hulu ledak nuklir yang dimilikinya. Pernyataan itu memicu respons keras dari Rusia, yang memperingatkan konsekuensi keamanan bagi negara-negara Eropa jika menerima penempatan pesawat Prancis yang mampu membawa senjata nuklir.

Macron menyampaikan rencana tersebut saat berkunjung ke pangkalan militer L’Ile Longue, lokasi penyimpanan kapal selam nuklir Prancis, sebagaimana dikutip Deutsche Welle (DW) pada 3 Maret. Prancis merupakan satu-satunya negara di Uni Eropa yang memiliki senjata nuklir.

Dalam pernyataannya, Macron menekankan pentingnya pembaruan kemampuan nuklir Prancis di tengah situasi geopolitik yang dinilainya penuh risiko. “Pembaruan arsenal kami adalah hal yang penting,” kata Macron. “Saat ini kita berada dalam situasi geopolitik yang penuh gejolak dan risiko.” Ia menambahkan bahwa dirinya telah memerintahkan penambahan jumlah hulu ledak nuklir dalam arsenal Prancis.

Macron juga sempat menyampaikan kemungkinan Prancis mengizinkan negara-negara mitra Eropa untuk menampung pesawat-pesawatnya yang mampu membawa senjata nuklir. Ia mengatakan pemerintahnya membahas pengaturan tersebut dengan Inggris, Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, Yunani, Swedia, dan Denmark.

Rusia merespons dengan peringatan bahwa negara-negara Eropa yang menerima penempatan pesawat pengebom strategis Prancis dapat menjadi target serangan pasukan Rusia jika terjadi konflik. Dilansir Reuters dan Al Arabiya pada Jumat (24/4/2026), Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Grushko menyebut langkah itu sebagai bagian dari “peningkatan yang tidak terkendali” dari potensi nuklir NATO yang, menurutnya, menimbulkan ancaman strategis bagi Rusia.

Grushko menegaskan kekhawatiran Moskow terhadap kemungkinan penempatan nuklir Prancis di negara-negara Eropa lain. “Jelas, militer kita akan dipaksa untuk memperhatikan masalah ini dengan saksama dalam konteks memperbarui daftar target prioritas jika terjadi konflik besar,” kata Grushko kepada media pemerintah Russia Today. Ia menambahkan, menurut Rusia, alih-alih memperkuat pertahanan, kebijakan tersebut justru dapat melemahkan keamanan negara-negara yang terlibat.

Inisiatif Macron disebut sebagai bagian dari upaya negara-negara Eropa anggota NATO untuk mengambil lebih banyak tanggung jawab atas pertahanan mereka sendiri, di tengah kritik yang kerap disampaikan Presiden AS Donald Trump terhadap aliansi tersebut.

Saat ini Prancis diperkirakan memiliki sekitar 290 hulu ledak nuklir, menjadikannya kekuatan nuklir terbesar keempat di dunia setelah Amerika Serikat, Rusia, dan China. Namun Macron tidak merinci berapa tambahan hulu ledak yang akan dibuat.

Macron juga menyebut doktrin nuklir Prancis akan diperluas melalui kerja sama yang lebih erat dengan sejumlah negara Eropa seperti Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, dan Denmark. Di sisi kemampuan militer, Prancis memiliki empat kapal selam bersenjata nuklir yang dapat beroperasi secara tersembunyi dengan jangkauan sekitar 10.000 kilometer. Prancis juga mengoperasikan jet tempur Rafale yang dapat meluncurkan rudal jelajah berhulu ledak nuklir dengan jarak sekitar 500 kilometer.

Langkah ini muncul di tengah kekhawatiran sejumlah negara Eropa mengenai seberapa jauh mereka dapat mengandalkan “payung nuklir” Amerika Serikat, yakni kebijakan AS untuk melindungi sekutu-sekutunya, terutama anggota NATO, dari ancaman nuklir.

Prancis terakhir kali menambah jumlah senjata nuklirnya pada 1992. Dalam konteks hubungan transatlantik, laporan tersebut juga menyebut hubungan dengan Amerika Serikat sempat memanas awal tahun ini ketika Presiden AS Donald Trump terlihat ingin mengambil alih Greenland, wilayah milik Denmark yang juga anggota Uni Eropa dan NATO. Meski sikap itu kemudian berubah, sejumlah negara Eropa disebut mulai meragukan arah kebijakan Washington ke depan, termasuk setelah masa jabatan Trump berakhir.

Di Jerman, Kanselir Friedrich Merz juga menyatakan bahwa pesawat Angkatan Udara Jerman bisa digunakan untuk mengangkut bom nuklir milik Prancis.