Rusia memperingatkan negara-negara Eropa agar tidak menerima penempatan pesawat pembom strategis Prancis yang berkemampuan nuklir. Moskow menegaskan, jika penempatan itu terjadi, negara yang menampungnya dapat masuk dalam daftar target serangan Rusia apabila pecah konflik.
Peringatan tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Alexander Grushko dalam wawancara yang dipublikasikan pada Kamis. Ia menyebut rencana Prancis itu sebagai bagian dari “peningkatan yang tidak terkendali” atas potensi nuklir NATO, yang menurut Rusia menimbulkan ancaman strategis.
“Jelas, militer kita akan dipaksa untuk memperhatikan masalah ini dengan saksama dalam konteks memperbarui daftar target prioritas jika terjadi konflik besar,” kata Grushko kepada media pemerintah Russia Today, sebagaimana dikutip Reuters (23/4).
Grushko juga menyatakan, alih-alih memperkuat pertahanan sekutu seperti yang dikemukakan Prancis, penempatan tersebut justru berisiko melemahkan keamanan negara-negara yang menerimanya. Ia menambahkan bahwa Prancis, menurutnya, tidak memberikan jaminan yang pasti terkait penguatan pertahanan itu.
Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Maret mengumumkan rencana memperluas peran persenjataan nuklir Prancis. Macron menyebut Paris dapat membuka kemungkinan bagi mitra Eropa untuk menampung pesawat berkemampuan nuklir Prancis untuk penempatan sementara.
Macron mengatakan Prancis tengah membahas pengaturan tersebut dengan sejumlah negara, yakni Inggris, Jerman, Polandia, Belanda, Belgia, Yunani, Swedia, dan Denmark.
Inisiatif itu disebut sebagai bagian dari upaya negara-negara Eropa anggota NATO untuk mengambil lebih banyak tanggung jawab atas pertahanan mereka sendiri. Langkah ini juga muncul di tengah kritik berulang Presiden AS Donald Trump terhadap aliansi tersebut, serta pernyataannya yang mengancam akan mengambil alih kendali Greenland dari Denmark, yang juga anggota NATO.
Di sisi lain, berakhirnya perjanjian terakhir yang membatasi ukuran persenjataan nuklir strategis Rusia dan Amerika Serikat pada Februari disebut menciptakan kekosongan dalam pengendalian senjata global. Situasi ini terjadi ketika ketegangan internasional meningkat akibat perang Ukraina dan Iran.
Grushko menekankan bahwa dialog masa depan mengenai senjata nuklir perlu mempertimbangkan kemampuan gabungan NATO, termasuk persenjataan Prancis dan Inggris, serta persenjataan Amerika Serikat.
Sementara itu, NATO pada pekan ini mengkritik Rusia dan China terkait kebijakan senjata nuklir mereka. NATO juga mendesak kedua negara untuk bekerja sama dengan Amerika Serikat guna membangun stabilitas dan transparansi yang lebih besar dalam konferensi yang akan dibuka di PBB, New York, pekan depan untuk meninjau pelaksanaan perjanjian non-proliferasi nuklir.