BERITA TERKINI
Solidaritas Rusia dan China Diuji Usai Serangan AS-Israel ke Iran

Solidaritas Rusia dan China Diuji Usai Serangan AS-Israel ke Iran

Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari tidak hanya memusatkan perhatian internasional pada Teheran. Dua mitra utama Iran, Rusia dan China, turut menjadi sorotan terkait sejauh mana dukungan yang akan mereka berikan di tengah eskalasi konflik.

Keduanya dikenal memiliki hubungan erat dengan Iran di bidang diplomatik, ekonomi, dan militer. Namun, perkembangan terbaru ini menjadi ujian nyata bagi komitmen mereka terhadap mitra strategis tersebut, terutama ketika risiko konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat dan sekutunya ikut meningkat.

Rusia: Kecaman keras, tetapi berhati-hati

Rusia merespons serangan gabungan AS-Israel dengan nada tegas. Kremlin menyatakan kekecewaan mendalam atas memburuknya situasi yang berujung pada konfrontasi terbuka.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan Moskow terus berkomunikasi dengan pejabat tinggi Iran serta negara-negara Teluk yang terdampak konflik. Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengecam tindakan Washington dan Tel Aviv sebagai agresi tanpa provokasi.

Presiden Vladimir Putin menyampaikan belasungkawa kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan tersebut. Putin menyebut kejadian itu sebagai pelanggaran terhadap moralitas dan hukum internasional.

Meski demikian, dukungan Rusia sejauh ini lebih menonjol dalam bentuk diplomatik dan pernyataan politik, bukan keterlibatan militer terbuka. Sikap ini sejalan dengan kehati-hatian Moskow agar tidak terseret langsung ke konflik bersenjata.

Di sisi lain, Iran selama beberapa tahun terakhir menjadi mitra penting Rusia, terutama sejak invasi Rusia ke Ukraina. Teheran disebut memasok drone tempur serta membantu Moskow menghadapi sanksi Barat. Namun, perjanjian kemitraan strategis yang diteken pada Januari 2025 tidak memuat kewajiban saling membela apabila salah satu pihak diserang.

Hubungan ekonomi Rusia-Iran juga dinilai relatif terbatas, dengan nilai perdagangan sekitar US$4 miliar hingga US$5 miliar. Kerja sama militer memang berkembang, termasuk laporan rencana pengiriman sistem pertahanan udara Verba dan pengadaan alutsista seperti Yak-130 serta Mi-28, tetapi realisasinya belum sepenuhnya terwujud.

Dengan fokus Rusia yang masih tertuju pada perang di Ukraina, peluang Moskow meningkatkan keterlibatan militernya di Iran dalam waktu dekat dinilai kecil.

China: Penopang ekonomi dan mitra strategis

China menempuh pendekatan yang berbeda. Beijing berperan penting sebagai penyangga ekonomi Iran. Pemerintah China mengecam keras pembunuhan Ayatollah Khamenei dan secara konsisten menolak strategi perubahan rezim yang kerap dikaitkan dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.

Bagi China, hubungan dengan Iran berakar kuat pada kepentingan ekonomi. Beijing merupakan mitra dagang terbesar Teheran sekaligus pembeli utama minyak Iran. Meski Iran berada di bawah sanksi berat AS, China tetap mengimpor minyak Iran dalam jumlah besar, termasuk melalui jalur distribusi tidak langsung.

Pada 2025, lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran dilaporkan mengalir ke China. Arus pendapatan ini disebut menjadi penopang stabilitas ekonomi Iran sekaligus mendukung pembiayaan sektor pertahanan.

Kerja sama kedua negara juga diperkuat melalui perjanjian strategis 25 tahun yang ditandatangani pada 2021, mencakup rencana investasi besar di sektor infrastruktur dan telekomunikasi.

Menahan diri demi kepentingan jangka panjang

Dalam berbagai eskalasi Iran-Israel maupun Iran-AS sebelumnya, China konsisten menyerukan penahanan diri dan menyalahkan campur tangan eksternal. Dukungan Beijing cenderung hadir melalui jalur diplomatik, termasuk sikap di Dewan Keamanan PBB, tanpa menawarkan intervensi militer langsung.

Strategi China dinilai berfokus pada menjaga keseimbangan: mempertahankan Iran sebagai mitra penting, sekaligus mencegah konflik berkembang menjadi perang besar yang berpotensi mengguncang pasar energi global.

Iran memiliki nilai strategis bagi China, bukan hanya sebagai pemasok energi, tetapi juga sebagai bagian dari blok multilateral seperti BRICS dan Organisasi Kerja Sama Shanghai yang dipandang sebagai penyeimbang pengaruh Barat. Bagi Beijing, munculnya pemerintahan pro-Barat di Teheran akan menjadi kerugian geopolitik. Namun, sesuai pendekatan luar negeri China selama ini, Beijing cenderung memainkan strategi jangka panjang sambil tetap membuka jalur komunikasi dengan siapa pun yang kelak memimpin Iran.

Di tengah ketidakpastian situasi, Rusia dan China sama-sama terlihat menjaga jarak dari keterlibatan militer langsung. Keduanya tampak lebih memilih melindungi kepentingan strategis masing-masing ketimbang mengambil risiko konfrontasi terbuka dengan Amerika Serikat dan sekutunya.