Pembangunan berkelanjutan menuntut keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan sosial. Dalam kerangka ini, ekonomi lingkungan diposisikan sebagai pendekatan analitis untuk membaca hubungan timbal balik antara aktivitas ekonomi dan kualitas lingkungan, termasuk dalam perencanaan pembangunan infrastruktur.
Sebuah kajian dengan metode studi literatur (literature review) menggunakan pendekatan deskriptif-analitis menyoroti bagaimana konsep ekonomi lingkungan dapat diintegrasikan ke dalam studi kelayakan pembangunan, dengan studi kasus rencana pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Balangan di Provinsi Kalimantan Selatan. Kajian tersebut menelaah konsep ekonomi lingkungan, metodologi studi kelayakan, integrasi analisis internal dan eksternal, serta uji kesesuaian lahan.
Hasil kajian menyimpulkan bahwa pembangunan RSUD Balangan dinilai memiliki landasan yang kuat dari sisi teknis, finansial, sosial, dan lingkungan. Penilaian kelayakan internal menekankan kesiapan sumber daya, manajemen, dan teknologi yang dibutuhkan untuk menjalankan proyek. Sementara itu, kelayakan eksternal menyoroti adanya dukungan kebijakan, dinamika demografi, serta kondisi geografis dan sosial budaya yang dinilai mendukung pelaksanaan pembangunan.
Dari aspek kebijakan, rencana pembangunan dikaitkan dengan arah pembangunan kesehatan nasional yang tercantum dalam Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2015–2019, serta kerangka perencanaan jangka panjang bidang kesehatan 2005–2025 yang menjadi bagian dari sistem kesehatan nasional. Pada sisi demografi, kajian mencatat jumlah penduduk Kabupaten Balangan pada 2020 sebanyak 130.355 jiwa, dengan Kecamatan Halong disebut sebagai wilayah berpenduduk terbanyak. Data tersebut diposisikan sebagai salah satu indikator kebutuhan layanan kesehatan.
Aspek geografis juga menjadi pertimbangan dalam menilai posisi lahan terhadap lingkungan sekitar, termasuk dukungan sarana-prasarana serta aksesibilitas yang memengaruhi pengembangan layanan kesehatan ke depan. Selain itu, kajian sosial budaya diarahkan untuk memahami kondisi masyarakat, termasuk keterkaitan agama dan kebiasaan setempat sebagai faktor yang dinilai dapat mendukung pelaksanaan pembangunan fisik, termasuk pembangunan rumah sakit.
Temuan lain yang ikut menguatkan legitimasi rencana pembangunan adalah hasil Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) pengguna layanan Pemerintah Kabupaten Balangan yang tercatat sebesar 82,53 dan masuk kategori “Baik”. Dalam kajian tersebut, skor SKM dipandang sebagai sinyal dukungan terhadap peningkatan layanan, sekaligus peluang pengembangan pelayanan kesehatan melalui pembangunan RSUD.
Di sisi lingkungan, ekonomi lingkungan menekankan perlunya memasukkan biaya dan dampak lingkungan dalam perencanaan proyek, termasuk prinsip keberlanjutan, internalisasi eksternalitas, dan valuasi sumber daya alam serta jasa ekosistem. Kajian juga menyinggung relevansi konsep ekonomi hijau dan ekonomi sirkular yang menekankan efisiensi sumber daya serta pengurangan limbah.
Uji kesesuaian lahan dipaparkan sebagai bagian penting dalam studi kelayakan untuk memastikan lahan sesuai dengan daya dukung dan daya tampungnya. Evaluasi kesesuaian lahan mencakup parameter fisik, kimia, dan biologis, serta mempertimbangkan faktor iklim dan aksesibilitas. Dalam kasus RSUD Balangan, uji kesesuaian lahan dinyatakan menunjukkan dukungan lokasi dari sisi topografi, aksesibilitas, dan parameter lahan yang dinilai relevan.
Secara keseluruhan, kajian menyimpulkan pembangunan RSUD Balangan layak dan strategis untuk dilaksanakan. Namun, pelaksanaannya tetap dinilai memerlukan perencanaan yang matang, penguatan manajemen operasional, serta mitigasi dampak lingkungan agar tujuan peningkatan layanan kesehatan dapat berjalan sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.