Sejak terbit, Surat Kabar Thanh Nien menaruh perhatian besar pada olahraga, terutama sepak bola internasional. Salah satu penanda awalnya terlihat pada Buletin Berita Piala Dunia 1986 yang terbit hanya beberapa bulan setelah edisi pertama Thanh Nien diluncurkan. Buletin tersebut terjual 60.000 eksemplar dan disebut menjadi titik balik penting bagi perkembangan surat kabar secara umum, serta liputan sepak bola internasional secara khusus.
Di masa Vietnam belum memiliki akses internet, liputan turnamen besar dunia menjadi pekerjaan yang menuntut kesabaran dan ketekunan. Para penulis olahraga senior Thanh Nien mengenang bahwa saat mengikuti Piala Dunia 1986 di Meksiko, EURO 1988, hingga Piala Dunia 1990 di Italia, mereka tidak hanya mengandalkan siaran televisi analog, tetapi juga mendengarkan radio asing untuk memperoleh informasi terbaru.
Untuk menyusun profil para bintang sepak bola dunia, jurnalis juga harus berlangganan majalah luar negeri seperti France Football dan menunggu berbulan-bulan hingga terbitan tiba. Dalam situasi seperti itu, setiap artikel lahir dari pengumpulan data yang cermat, ketekunan, dan kecintaan terhadap sepak bola.
Memasuki akhir 1990-an hingga awal 2000-an, seiring integrasi Vietnam yang kian kuat dengan komunitas global, Thanh Nien melakukan perubahan penting: mengirim wartawan ke luar negeri untuk meliput turnamen besar secara langsung. Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang menjadi tonggak, karena untuk pertama kalinya wartawan Thanh Nien hadir di Piala Dunia dan mengirimkan laporan dari lokasi.
Perubahan itu semakin terasa pada Piala Dunia 2006 di Jerman ketika jurnalis Do Hung ditugaskan meliput selama lebih dari sebulan. Dengan kartu pers resmi FIFA, ia dapat menghadiri pertandingan, mengikuti konferensi pers, serta mewawancarai pemain, pelatih, jurnalis internasional, dan penggemar dari berbagai negara.
Do Hung pernah mengenang momen pertamanya berada di Allianz Arena, Munich, saat upacara pembukaan Piala Dunia 2006. Baginya, pengalaman itu bukan sekadar menyaksikan atmosfer stadion modern, melainkan juga menandai hadirnya seorang jurnalis Vietnam—reporter Thanh Nien—di pusat perhelatan sepak bola dunia.
Sejak itu, Do Hung menjadi salah satu reporter yang konsisten meliput Piala Dunia dan EURO. Ia tercatat meliput Jerman (Piala Dunia 2006), Austria-Swiss (EURO 2008), Afrika Selatan (Piala Dunia 2010), Polandia-Ukraina (EURO 2012), Brasil (Piala Dunia 2014), Prancis (EURO 2016), Rusia (Piala Dunia 2018), hingga Qatar (Piala Dunia 2022). Dari stadion, ia menghadirkan suasana sepak bola dunia untuk pembaca dan pemirsa Thanh Nien melalui artikel cetak dan daring, program televisi langsung, video, serta konten digital di berbagai platform.
Dalam perjalanan liputan tersebut, pertemuan dengan tokoh-tokoh sepak bola menjadi bagian penting. Do Hung pernah bercerita tentang pertemuan kebetulan dengan pelatih Bora Milutinović di Marienplatz, Munich, menjelang pembukaan Piala Dunia 2006. Pengalaman sang pelatih yang pernah membawa banyak tim nasional ke putaran final Piala Dunia kemudian diolah menjadi artikel. Pada EURO 2008, Do Hung juga berkesempatan mewawancarai Zlatan Ibrahimovic di kamp latihan tim nasional Swedia di Swiss selatan.
Menurut Do Hung, ketika semua pertandingan disiarkan langsung, tantangan terbesar wartawan adalah menemukan cerita yang tidak terlihat oleh publik di televisi. Cerita itu bisa berupa ekspresi pemain cadangan di bangku, air mata suporter setelah kekalahan, atau dinamika sehari-hari di balik gemerlap pertandingan. Ia menilai pekerjaan tersebut menuntut pengamatan tajam dan kemampuan merangkai ide agar tetap relevan.
Pada Piala Dunia 2018 di Rusia, Do Hung bahkan merancang perjalanan khusus sebagai bagian dari liputan: menempuh rute kereta api dari Kota Ho Chi Minh ke Moskow. Perjalanan 17 hari itu melintasi Vietnam, melewati Tiongkok dan Gurun Gobi, menyeberangi stepa Mongolia, hingga bergabung dengan Kereta Api Trans-Siberia melewati hutan birch. Kisahnya ditulis dalam seri artikel cetak berjudul “Moskow di Depan Kereta Api”, sementara video perjalanannya juga menarik perhatian di platform digital. Rangkaian ini menunjukkan liputan olahraga yang bergerak melampaui batas stadion.
Do Hung juga menuturkan pengalamannya mengikuti perjalanan karier sejumlah bintang. Ia pertama kali melihat Lionel Messi secara langsung pada Piala Dunia 2006 dalam laga Argentina melawan Serbia & Montenegro, ketika Messi masih dianggap talenta muda. Ia kemudian menyaksikan berbagai fase karier pemain itu, termasuk kekalahan Argentina dari Jerman pada 2006 dan 2010, final Piala Dunia 2014 di Maracanã, kekalahan telak dari Kroasia pada 2018, hingga akhirnya melihat Messi mengangkat trofi Piala Dunia di Qatar pada 2022. Ia menyebut dirinya beruntung dapat menyaksikan hampir seluruh perjalanan pemain kelas dunia seperti Messi, Cristiano Ronaldo, Thomas Müller, dan Andres Iniesta.
Salah satu liputan yang paling membekas secara emosional baginya terjadi pada EURO 2012 di Polandia dan Ukraina. Setelah meliput dari Polandia, Do Hung melanjutkan perjalanan dengan kereta semalaman ke Ukraina. Ia mengirimkan laporan dari Lapangan Kemerdekaan di Kyiv, Stadion Metalist di Kharkiv, serta stadion di Donetsk yang ia gambarkan berbentuk piringan. Ia juga melakukan perjalanan ke Chernobyl—lokasi bencana nuklir 1986—untuk menghadirkan cerita di luar sepak bola yang tetap berkaitan dengan manusia dan sejarah.
Do Hung mengenang Donetsk sebagai kota yang dipenuhi bunga mawar, dengan suasana yang hangat dan ramah pada masa EURO 2012. Namun, dua tahun setelah turnamen itu, konflik meletus di kawasan tersebut. Stadion yang sebelumnya menjadi panggung sepak bola dilaporkan rusak akibat penembakan, dan Shakhtar Donetsk harus mengungsi ke Lviv. Ketika perang di Ukraina semakin intens sejak 2022 dengan keterlibatan Rusia, Do Hung menyatakan sulit mempercayai perubahan drastis dari negara yang dulu damai dan semarak sepak bola menjadi wilayah yang diliputi perang. Ia juga menyebut pemandangan Donetsk, Kharkiv, dan Kyiv yang hancur sebagai sesuatu yang memilukan jika dibandingkan dengan ingatannya pada 2012.
Dari musim panas Meksiko pada 1986 hingga kini, hampir empat dekade berlalu bersamaan dengan peringatan 40 tahun terbitnya edisi pertama Thanh Nien. Dalam rentang itu, jurnalisme—terutama jurnalisme olahraga—mengalami perubahan besar. Dari liputan tidak langsung yang bergantung pada televisi dan sumber cetak luar negeri, Thanh Nien bertransformasi menjadi kehadiran langsung dan berkelanjutan di turnamen besar regional maupun dunia.
Perkembangan teknologi, khususnya internet dan media sosial, turut mengubah cara kerja wartawan. Pengiriman berita, artikel, foto, dan video dari lokasi menjadi lebih cepat. Pembaca dan penonton juga tidak hanya mengikuti peristiwa pertandingan, tetapi dapat menikmati cerita sampingan, potongan kehidupan, dan emosi yang menyertai sepak bola dunia.
Dalam 10 tahun terakhir, kanal konten digital Thanh Nien memproduksi ratusan program televisi langsung yang menghubungkan studio di ruang redaksi dengan Do Hung dari lokasi turnamen Piala Dunia dan EURO. Format ini memungkinkan suasana festival sepak bola tersampaikan secara langsung, sekaligus membuka interaksi dua arah yang sebelumnya sulit diwujudkan lewat jurnalisme tradisional.
Di Thanh Nien, perubahan tidak hanya dipahami sebagai soal teknologi, tetapi juga cara pandang. Reporter tidak lagi semata penyampai kabar, melainkan pendongeng yang menghubungkan pengalaman pembaca dengan peristiwa di luar batas negara. Dalam kerangka itu, sepak bola tidak berhenti pada skor, melainkan merambah budaya, sejarah, identitas manusia, dan dinamika dunia yang menyertainya.

