BERITA TERKINI
ADB Pangkas Prospek Pertumbuhan Asia-Pasifik, Inflasi Diproyeksi Naik akibat Gangguan Energi Berkepanjangan

ADB Pangkas Prospek Pertumbuhan Asia-Pasifik, Inflasi Diproyeksi Naik akibat Gangguan Energi Berkepanjangan

Bank Pembangunan Asia (ADB) menurunkan secara signifikan prospek pertumbuhan ekonomi dan menaikkan proyeksi inflasi untuk negara-negara berkembang di Asia dan Pasifik. Revisi ini dilakukan seiring gangguan berkepanjangan akibat konflik di Timur Tengah yang dinilai terus mendorong kenaikan harga energi, memperketat kondisi keuangan, dan membebani aktivitas ekonomi di kawasan.

Presiden ADB Masato Kanda mengatakan revisi tersebut merupakan penyesuaian besar terhadap proyeksi sebelumnya untuk mencerminkan krisis yang kian dalam. ADB juga menilai gangguan yang terjadi bersifat sistemik dan berjangka panjang terhadap jaringan energi dan perdagangan global, bukan sekadar volatilitas sementara.

Dalam pembaruan khusus terhadap perkiraan ekonominya, ADB memperkirakan pertumbuhan regional sebesar 4,7% pada tahun ini dan 4,8% pada tahun depan. Angka itu turun dari proyeksi 5,1% untuk kedua tahun yang sebelumnya dimuat dalam Asian Development Outlook (ADO) April 2026. Di sisi lain, inflasi kawasan diproyeksikan meningkat menjadi 5,2% pada tahun ini dari 3,0% pada tahun lalu, sebelum mereda menjadi 4,1% pada 2027.

ADB menyatakan revisi prospek mencerminkan bukti yang semakin banyak bahwa dampak ekonomi konflik berlangsung lebih lama dari perkiraan awal. Risiko yang berkelanjutan terhadap produksi energi dan jalur transportasi, ditambah tekanan yang terus bertahan pada harga minyak dan gas, dinilai melemahkan prospek pertumbuhan serta meningkatkan tekanan inflasi. Dampak tersebut disebut akan lebih terasa pada ekonomi yang sangat bergantung pada impor bahan bakar, pengiriman uang, pariwisata, atau pembiayaan eksternal.

Dalam asumsi dasar terbaru, ADB memperkirakan harga minyak rata-rata sekitar USD96 per barel pada 2026, jauh di atas rata-rata sebelum konflik sebesar USD69 per barel pada Januari dan Februari, sebelum turun menjadi sekitar USD80 per barel pada 2027.

ADB juga memaparkan skenario terburuk, yakni jika konflik kembali meningkat sehingga harga minyak melonjak pada Mei 2026 dan bertahan lebih tinggi. Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan negara-negara berkembang di Asia dan Pasifik dapat melambat menjadi 4,2% pada tahun ini dan 4,0% pada tahun depan, sementara inflasi dapat mencapai 7,4% pada 2026.

Dalam ringkasannya, ADB menekankan respons kebijakan yang berfokus pada stabilisasi tanpa menekan sinyal harga. Menurut ADB, membiarkan harga energi yang lebih tinggi tetap berlaku setidaknya sebagian dapat mendorong penghematan energi, peralihan bahan bakar, serta investasi pada sumber energi alternatif. Sebaliknya, pengendalian harga secara luas atau subsidi umum dinilai berisiko mendistorsi insentif, menunda penyesuaian, dan mengalokasikan sumber daya secara tidak tepat.