Pemerintah menyatakan risiko resesi ekonomi Indonesia masih terkendali meski ketidakpastian global terus berlanjut. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut probabilitas resesi Indonesia berada pada level rendah, bahkan di bawah sejumlah negara maju.
"Probability resesi Indonesia di bawah 5 persen, di bawah negara seperti AS, Kanada, dan Jepang," kata Airlangga dalam acara Kick Off PINISI di Bank Indonesia, Jakarta, Senin (27/4).
Menurut Airlangga, kondisi tersebut mencerminkan fundamental ekonomi domestik yang dinilai tetap solid di tengah tekanan global. Ia menyinggung konflik geopolitik, termasuk di Timur Tengah, yang disebut berdampak pada jalur perdagangan energi di Selat Hormuz.
Airlangga menegaskan aktivitas ekonomi dalam negeri masih berjalan dengan baik sehingga momentum pertumbuhan nasional tetap terjaga. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini mencapai 5,4 persen, dengan proyeksi pertumbuhan kuartal I sebesar 5,5 persen.
"Walaupun perang belum selesai, Indonesia masih memiliki resiliensi yang kuat dan ruang untuk tumbuh tetap tinggi," ujar Airlangga.
Ia juga menyampaikan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi berpotensi melampaui target. Airlangga merujuk capaian pertumbuhan ekonomi 2025 yang tercatat sebesar 5,11 persen.
Selain itu, Airlangga mengatakan sejumlah lembaga internasional masih memberikan penilaian positif terhadap prospek ekonomi Indonesia di tengah tekanan global. "Dunia masih melihat Indonesia sebagai ekonomi yang cukup kuat. IMF mengatakan Indonesia salah satu bright spot di Asia," ujarnya.
Dengan berbagai indikator tersebut, pemerintah meyakini perekonomian nasional tetap memiliki daya tahan yang baik serta peluang pertumbuhan ke depan.