BEIJING — Pengamat militer China menilai menipisnya persediaan amunisi Amerika Serikat (AS) selama perang melawan Iran, ditambah kapasitas produksi yang terbatas, dapat menjadi titik kelemahan kritis bagi kekuatan militernya. Kerentanan itu dinilai akan semakin terasa jika AS menghadapi konflik di masa depan melawan lawan yang lebih kuat.
Penilaian tersebut mengacu pada perkiraan penggunaan amunisi AS selama perang Iran. AS disebut telah menghabiskan sekitar setengah dari persediaan rudal pertahanan udara Patriot dan pencegat jarak jauh Terminal High Altitude Area Defence (THAAD).
Laporan Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada Selasa (21/4/2026) juga menyebut persediaan rudal pencegat Standard Missile 3 (SM-3) dan Standard Missile 6 (SM-6) yang diluncurkan dari kapal menurun secara signifikan.
Selain itu, militer AS dilaporkan telah menggunakan sekitar 40 hingga 70 dari total 90 Rudal Serangan Presisi (PrSM), amunisi tercanggih yang dikembangkan untuk peluncur roket ganda HIMARS.
CSIS turut mengungkap bahwa lebih dari seperempat dari sekitar 3.100 rudal jelajah Tomahawk dan hampir seperempat dari sekitar 4.400 Rudal Jarak Jauh Udara-ke-Darat (JASSM) siluman telah ditembakkan.
CSIS memperingatkan penipisan stok tersebut dapat semakin membatasi kemampuan pasukan AS jika terjadi konflik dalam waktu dekat, mengingat persediaan pra-perang dinilai tidak mencukupi. Lembaga itu juga menyatakan perang melawan lawan yang setara seperti China berpotensi menghabiskan amunisi dengan laju yang lebih besar.
Meski Pentagon telah menandatangani serangkaian kontrak yang ditujukan untuk memperluas produksi rudal pada tahun ini, CSIS menilai waktu pengiriman tetap memakan waktu sekitar tiga hingga lima tahun, bahkan dengan peningkatan kapasitas.
Sejumlah analis China menilai terkurasnya amunisi militer AS dipengaruhi oleh kurangnya antisipasi di Washington, persiapan yang dinilai buruk untuk konflik, serta lemahnya basis industri pertahanan AS. Pakar militer Wei Dongxu mengatakan kepada stasiun televisi pemerintah CCTV bahwa industri pertahanan AS masih menghadapi persoalan kapasitas produksi yang tidak mencukupi, sehingga kecepatan produksi dinilai tidak akan mampu mengejar tingkat konsumsi militer AS.
Wei juga menyebut AS berisiko mengalami kekurangan teknis yang signifikan jika menghadapi perang dengan intensitas lebih tinggi melawan musuh yang lebih mampu. Ia menambahkan bahwa investasi yang beragam dan sumber daya yang tersebar di industri pertahanan AS dinilai menghambat kapasitas produksi.
Di sisi lain, peneliti militer Liu Yi menilai militer AS salah memperkirakan durasi perang. Menurutnya, AS berasumsi perang akan berlangsung singkat dan menentukan, sehingga persiapan serta pengadaan amunisi ofensif jauh melampaui amunisi defensif.
Dalam analisisnya, Liu sependapat dengan temuan CSIS yang menyatakan tingkat penggunaan amunisi defensif—seperti THAAD, Patriot, dan SM-3—lebih tinggi dibandingkan amunisi ofensif. Kondisi itu, menurut Liu, membuat seluruh aparat militer AS menghadapi biaya yang sangat tinggi untuk pertahanan udara dan intersepsi ketika menghadapi serangan balasan Iran.
Liu menambahkan bahwa kurang dari tiga minggu sejak perang dimulai, militer AS disebut telah menghabiskan lebih banyak rudal pencegat daripada pengadaan yang dijadwalkan untuk sepanjang 2026.