BERITA TERKINI
Ancaman Penutupan Selat Hormuz dan Risiko Guncangan Energi bagi Ekonomi Global serta Indonesia

Ancaman Penutupan Selat Hormuz dan Risiko Guncangan Energi bagi Ekonomi Global serta Indonesia

Selat Hormuz kembali menjadi perhatian di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat. Isu penutupan jalur laut strategis ini memunculkan kekhawatiran tentang dampaknya terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia, mengingat perannya yang sangat besar dalam arus perdagangan energi dunia.

Secara geografis, Selat Hormuz berada di antara Iran di sisi utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di sisi selatan. Perairan sempit ini menjadi penghubung utama antara Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Posisi tersebut membuatnya menjadi rute vital bagi pengiriman energi, karena sekitar seperlima minyak yang diperdagangkan melalui laut setiap hari melintasi selat ini, atau lebih dari 20 persen pasokan minyak dunia yang bergantung pada kelancaran arus di kawasan tersebut.

Sejumlah negara produsen minyak besar di kawasan Teluk—antara lain Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Iran—mengandalkan Selat Hormuz sebagai jalur ekspor utama. Dalam lima tahun terakhir, volume minyak mentah dan kondensat yang melintas di selat ini disebut berada di kisaran 14 hingga 16 juta barel per hari.

Tidak hanya minyak, sekitar seperlima perdagangan gas alam cair (LNG) dunia juga melewati Selat Hormuz. LNG dari kawasan Teluk memiliki peran penting bagi pasar energi di Asia dan Eropa. Jika digabungkan dengan arus minyak dan produk energi lainnya, total volume yang melintas dapat mendekati 20 juta barel per hari, menegaskan posisi Selat Hormuz sebagai salah satu titik kunci keamanan energi global.

Meski terdapat alternatif berupa jalur pipa darat, kapasitasnya dinilai jauh lebih kecil dibandingkan volume pengiriman melalui laut. Kondisi ini membuat gangguan di Selat Hormuz sulit digantikan sepenuhnya. Karena itu, selat ini kerap dipandang bukan hanya sebagai jalur ekonomi, tetapi juga instrumen geopolitik yang sensitif.

Iran, sebagai negara yang berbatasan langsung, memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas kawasan. Dalam berbagai periode ketegangan dengan Amerika Serikat, ancaman penutupan atau blokade Selat Hormuz berulang kali muncul sebagai respons politik maupun militer. Bahkan tanpa penutupan penuh, ancaman tersebut dinilai cukup untuk memicu gejolak di pasar energi global, termasuk risiko penumpukan kapal tanker di sekitar pelabuhan kawasan Teluk dan meningkatnya peringatan keamanan bagi kapal yang melintas.

Jika skenario penutupan penuh terjadi, dampak yang paling cepat terasa adalah lonjakan harga minyak. Berkurangnya pasokan global sebesar 15–20 juta barel per hari dalam waktu singkat berpotensi mendorong kenaikan harga di pasar. Dalam skenario terburuk, harga minyak disebut dapat menembus rekor tertinggi dan berpotensi melampaui 100 dolar AS per barel apabila gangguan berlangsung lama.

Kenaikan harga minyak berpotensi merambat ke berbagai sektor, mulai dari harga bensin, solar, LPG, hingga bahan bakar penerbangan. Dampaknya dapat meningkatkan biaya produksi industri, menaikkan ongkos distribusi, dan pada akhirnya memicu inflasi global. Negara-negara pengimpor energi diperkirakan merasakan tekanan paling besar. Pada saat yang sama, gangguan pasokan LNG dapat memperparah situasi dan memunculkan risiko krisis energi ganda. Sejumlah sektor seperti petrokimia, logam, pulp dan kertas, serta manufaktur juga berisiko terdampak akibat biaya energi yang lebih tinggi.

Bagi Indonesia, risiko tersebut dinilai signifikan karena Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak dan LPG. Lonjakan harga energi global berpotensi mendorong kenaikan harga bahan bakar domestik, meningkatkan biaya transportasi, dan memengaruhi harga kebutuhan pokok. Tekanan inflasi dapat menekan daya beli masyarakat, sementara sektor logistik dan pelayaran berpotensi menghadapi kenaikan biaya asuransi kapal, perubahan rute pengiriman, serta peningkatan tarif kontainer.

Dalam jangka panjang, ketidakpastian di jalur ini berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi global, yang pada akhirnya turut memengaruhi Indonesia. Meski beberapa negara Teluk memiliki pipa alternatif menuju Laut Merah atau pelabuhan lain di luar Teluk Persia, kapasitasnya disebut terbatas dan tidak mampu menggantikan seluruh volume yang biasanya melewati Selat Hormuz.

Di Indonesia, PT Pertamina (Persero) disebut telah menyiapkan skenario mitigasi, termasuk pengalihan rute kapal pengangkut minyak mentah melalui jalur yang lebih aman, diversifikasi sumber impor, serta pemanfaatan cadangan energi strategis. Namun, ketergantungan global pada Selat Hormuz tetap tinggi, sehingga stabilitas kawasan ini dipandang sebagai faktor krusial bagi perekonomian dunia dan pergerakan harga energi yang turut memengaruhi kebutuhan sehari-hari.