Amerika Serikat membatalkan rencana pengiriman delegasi tingkat tinggi ke Pakistan yang sedianya ditujukan untuk melanjutkan perundingan dengan Iran. Pembatalan ini disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump secara mendadak menyatakan tidak melihat manfaat dari agenda tersebut.
Menyusul langkah AS itu, sistem pertahanan udara Iran dilaporkan diaktifkan. Berdasarkan laporan yang beredar, aktivasi dilakukan di dua lokasi, yakni di atas Kermanshah dan wilayah pinggiran di sekitarnya. Sejumlah aktivitas terkait disebut terdengar jelas di berbagai bagian kota.
Menurut laporan tersebut, sumber lokal mengklaim suara yang terdengar berasal dari pengujian sistem pertahanan. Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi resmi mengenai hal itu. Pemerintah Iran juga belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait pengaktifan sistem pertahanan udara tersebut.
Sebelumnya, Trump membatalkan rencana keberangkatan utusan AS yang dijadwalkan terbang pada Sabtu (25/4/2026). Ia menyatakan tidak ingin delegasinya menempuh perjalanan panjang untuk pembicaraan yang dinilainya tidak berguna.
“Tidak perlu terbang 18 jam ke sana hanya untuk duduk dan membicarakan hal yang tidak ada gunanya,” kata Trump, dikutip dari Fox News.
Trump menegaskan posisi AS saat ini dinilainya kuat dalam konteks negosiasi. Ia menyatakan tidak perlu mengejar Iran dan memilih menunggu pihak Teheran yang mengambil langkah lebih dulu.
“Kami memegang semua kartu kendali. Mereka (Iran) bisa menelepon kami kapan saja mereka mau,” tambahnya.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan sudah berada di Pakistan sejak Jumat (24/4). Kunjungannya disebut untuk bertemu dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif. Namun Araghchi menegaskan Teheran tidak ingin duduk satu meja dengan AS untuk melakukan perundingan.